Share

Rusia Tangguhkan Ekspor Gandum hingga Pupuk, Krisis Pangan Dunia Makin Parah?

Wahyudi Aulia Siregar, Okezone · Senin 31 Oktober 2022 20:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 31 320 2698243 rusia-tangguhkan-ekspor-gandum-hingga-pupuk-krisis-pangan-dunia-makin-parah-a1VUuFVqGe.jpg Rusia Tangguhkan Ekspor Gandum dan Pupuk. (Foto: Okezone.com/VOA Indonesia)

MEDAN - Rusia menangguhkan partisipasinya dalam perjanjian gandum yang ditengahi PBB. Kebijakan tersebut diputuskan Rusia setelah armada kapal Rusia dari laut hitam mendapatkan serangan drone dari Ukraina.

Langkah yang diambil Rusia berpotensi memicu kenaikan harga pangan dunia. Mengingat Rusia bukan saja memasok kebutuhan gandum, namun jagung, bunga matahari hingga pupuk.

Sejauh ini belum ada kepastian sampai kapan Rusia akan menangguhkan kebijakan ekspor gandum tersebut. Selama kebijakan itu belum ditangguhkan, selama itu pula harga komoditas pangan dunia berpeluang naik dan menciptakan gangguan harga pangan di tanah air.

Baca Juga: 3 Negara yang Berjaya Usai Perang Dunia II, Nomor 2 Terlibat Pertempuran Hebat hingga Kini

"Sudah pasti langkah yang diambil Rusia tersebut akan memicu kekuatiran terjadinya krisis pangan global," kata Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin, Senin (31/10/2022).

Sejauh ini, dampak dari kebijakan Rusia telah memicu kenaikan harga Gandum 5,77% di level USD877/bushel dan harga gandum sendiri pernah menyentuh kisaran USD1.260 per bushel pada Mei tahun ini.

Selain gandum, jagung juga mengalami kenaikan harga 2,73% di level USD699,34 per bushel, atau masih lebih rendah dari capaian tertinggi tahun ini yang sempat menyentuh USD812 per bushel pada april.

Baca Juga: Ekonomi Rusia Diprediksi Turun 3%-3,5% di 2022 Imbas Perang

"Yang perlu kita khawatirkan dampaknya ke Tanah Air adalah potensi kenaikan produk turunan dari komoditas yang tertahan tersebut. Meskipun saya melihatnya tidak akan berpengaruh secara instan, akan tetapi semakin lama Rusia menahan ekspornya, maka potensi lonjakan harga pangan seperti mi instan, biskuit, roti tawar, tepung hingga produk olahan rumah tangga mengalami kenaikan," paparnya.

Selain itu, yang perlu diwaspadai adalah adanya potensi kenaikan input biaya produksi pertanian karena pupuk juga berpeluang mengalami kenaikan. Di saat pupuk naik maka produk pertanian juga berpeluang untuk mengalami kenaikan.

Jadi penangguhan ini akan bisa memberikan dampak serius pada terciptanya kenaikan laju tekanan inflasi di masyarakat.

Baca Juga: BuddyKu Fest: 'How To Get Your First 10k Follower'

Follow Berita Okezone di Google News

"Sejauh ini, memang belum begitu dirasakan (kenaikan jagung dan gandum), dan saya sendiri juga belum melihat adanya potensi kenaikan produk turunan dari komoditas tersebut di tanah air setidaknya dalam 1 bulan mendatang. Bahkan untuk harga jagung sendiri di tingkat pembeli akhir (industri pakan ternak) berada dikisaran harga 4.500 per kg saat ini. Dan dampak kenaikan harga jagung dunia tidak akan linier meskipun tetap perlu diwaspadai," pungkasnya.

"Jadi harga daging ayam maupun telur ayam masih akan bergerak stabil dengan potensi mengalami penurunan. Dari pantauan PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis), di Kota Medan sendiri harga daging ayamnya cukup stabil dengan kecenderungan turun dikisaran 27.600 per Kg nya. Meskipun di wilayah Jawa beberapa provinsi seperti DKI Jakarta dan Jawa Timur mencatatkan sedikit kenaikan harga pada daging ayam. Namun untuk harga telur ayam, kompak mengalami sedikit penurunan," tambah Gunawan.

Menurut Gunawan, kebijakan yang diambil Rusia ini belum akan memicu terjadinya krisis pangan di tanah air. Karena sumber bahan makanan utama kita itu beras, dan cukup resilent terhadap fluktuasi harga beras dunia.

"Namun kita harus bersiap dengan potensi ancaman kenaikan harga pangan saat ini, bukan hanya inflasi tetapi potensi gangguan operasional perusahaan seiring dengan kenaikan biaya input produksi," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini