"Pada 2023 bukan hanya persoalan pandemi, tapi juga persoalan kondisi ekonomi global yang sangat tidak baik-baik saja, sangat gelap," katanya.
Bahlil mengaku baru akan bisa menentukan strategi pascaperhelatan KTT G20, tepatnya setelah melakukan pertemuan dan komunikasi dengan investor global dan sejumlah kolega pemerintahan negara lainnya.
Hal itu lantaran negara-negara G20 menguasai 80% ekonomi dunia, memegang 75 ekspor dunia serta memiliki 60% populasi dunia.
"Kami sudah ada beberapa langkah antisipatif, khususnya terkait apa yang akan dilakukan di 2023," katanya.
Namun, ia masih enggan mengungkapkan strategi tersebut sebelum mendapatkan informasi yang tepat dari para mitra.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)