Share

Menko Luhut: Saya Kesal, Seharusnya Tumpahan Minyak Montara Selesai Sebelum Zaman Jokowi

Heri Purnomo, MNC Portal · Kamis 24 November 2022 17:14 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 24 320 2714179 luhut-saya-kesal-seharusnya-tumpahan-minyak-montara-selesai-sebelum-zaman-jokowi-xoZJ6O86Xw.png Menko Luhut soal Kasus Tumpahan Minyak (Foto: Tangkapan Layar)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengaku sempat kesal dengan kasus tumpahan minyak Montara.

Menurut Luhut kasus ini seharusnya selesai sebelum periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjabat.

"Dulu saya terus terang saya kesal. Karena harusnya selesai sebelum zaman Jokowi. Tapi sudahlah, kita enggak usah cari yang lalu," kata Luhut dalam konferensi pers di Gedung Kemenko Marves, Kamis (24/11/2022).

BACA JUGA:Selesaikan Kasus Montara, Luhut: Jangan Pura-Pura Melupakan 

Luhut menegaskan kasus Montara harus diselesaikan hingga tuntas meski berganti pemerintahan.

"Janganlah kita itu jangan pura pura melupakan. Kalaupun nanti ada pergantian pemerintahan, itu tepat kita lanjutkan dan enggak boleh main-main," tegas Luhut.

Luhut mengatakan, kasus Montara saat ini sudah menemukan titik terang. Di mana kasus tersebut perusahaan minyak asal Thailand PTTEP mau membayarkan kerugian yang diterima oleh petani rumput laut dan nelayan di kawasan Laut Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Luhut mengatakan, Luhut mengatakan PTTEP akan memberikan pembayaran dari tuntutan pengadilan senilai AUD192,5 juta atau Rp2,02 triliun (kurs Rp10.500).

"Kemaren sudah ada dari Thailand ini sudah memberikan pembayaran dari tuntutan pengadilan yaitu mereka akan membayar AUD129,5 juta atau USD129 juta," kata Luhut.

Luhut mengatakan, pembayaran tersebut hanya untuk pembayaran dari kesalahan mereka yang berdampak langsung kepada para petani rumput laut dan nelayan yang terkena tumpahan minyak tersebut.

Sekadar informasi, Pemerintah Indonesia terus mengupayakan penyelesaian kasus Montara. Saat ini kasus Montara mulai ada kemajuan. Setelah sebelumnya kasus Montara mangkrak selama 13 tahun.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Kasus ini bermula saat insiden yang terjadi pada 2009 bermula dari tumpahan minyak yang bersumber dari PTTEP telah menyebabkan kerugian secara material dan kematian. Selain itu banyak para petani rumput laut dan nelayan yang kehilangan mata pencaharian di kawasan Laut Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tumpahan minyak ini, menyebabkan 90.000 kilometer persegi telah mencemari Laut Timor yang bersumber dari lapangan Montara. Setidaknya 85% tumpahan minyak ini terbawa oleh angin dan gelombang laut ke perairan Indonesia.

Menurut penelitian dari USAID-Perikanan-Lingkungan Hidup dan Pemerintah NTT pada 2011, menemukan paling tidak ada 64.000 hektare terumbu karang rusak atau sekitar 60% terumbu karang di perairan Laut Sawu hancur. Ikan-ikan dasar laut dan udang banyak yang mati.

Selain itu, tidak sedikit ikan hiu dan paus mati di perairan Laut Sawu. Kematian ikan kakap dan sardin menyebabkan berkurangnya tangkapan nelayan, sehingga menimbulkan kenaikan harga ikan di Kota Kupang naik.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini