Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Libur Nataru 2023, Pengusaha Oleh-oleh Malang Banjir Pesanan

Avirista Midaada , Jurnalis-Selasa, 27 Desember 2022 |16:21 WIB
Libur Nataru 2023, Pengusaha Oleh-oleh Malang Banjir Pesanan
Oleh-oleh Malang kebanjiran pesanan. (Foto: MPI)
A
A
A

MALANG - Pengusaha oleh-oleh khas Malang keripik tempe kebanjiran pesanan. Pasalnya banyak wisatawan yang berkunjung di momen libur natal dan tahun baru (Nataru) 2023 serta bersamaan dengan libur sekolah.

Namun di balik banyaknya pembeli ternyata tak sepenuhnya bisa tersenyum manis.

Melonjaknya harga-harga kebutuhan produksi menjadi penyebabnya.

Salah satu pelaku usaha keripik tempe khas Malang, Trio Andi Cahyono mengaku terpaksa memproduksi lebih keripik tempe di hari-hari libur Nataru kali ini.

 BACA JUGA:Viral! Kisah Pengusaha Katering Siapkan Risol hingga Lemper Pesanan Presiden

Bahkan kenaikan produksi keripik tempenya menyentuh hampir 50% dibandingkan hari biasanya.

"Kalau dari hari biasanya itu naik 30 - 40% lebih di Nataru ini. Kami menambah produksi solusinya," kata Trio kepada MNC Portal Indonesia (MPI), Selasa (27/12/2022).

Selain pembelian di toko, pembelian secara online yang dikirim ke alamat pembeli juga mengalami peningkatan.

Beberapa reseller dan outlet di tempat-tempat wisata serta rumah makan juga meminta tambahan pesanan selama masa Nataru.

"Misalnya di Pia Mangkok Malang itu ambilnya banyak, di Nataru ini nambah lagi," ucapnya.

Tak cukup sampai di situ, adanya pelonggaran perjalanan di berbagai negara juga membuat keripik tempe, terutama yang varian rasa sagu laris manis hingga ke luar negeri.

Dua negara yang menjadi distribusi rutin keripik produksi wilayah Sanan, Kota Malang yakni Taiwan dan Hongkong.

"Peningkatannya cukup drastis, saat ini dua minggu sekali kirim ke sana. Kalau sebelum-sebelumnya karena Covid-19 itu tiga minggu sekali paling tidak, dengan sekali pengiriman 2.500 pieces keripik, itu ke reseller di Taiwan dan Hongkong," ungkapnya.

Kenaikan permintaan pesanan membuat kebutuhan tempe di keripik tempe berlabel Rohani ini juga meningkat.

Jika sehari-harinya Andi membutuhkan 40 kotak tempe atau hingga mencapai 160 kilogram, kini bertambah.

Tapi diakui di libur Nataru kali ini ada beberapa kendala yang melanda usaha yang telah ada sejak tahun 1988, salah satunya kenaikan berbagai macam harga bahan pokok.

"Sekarang semuanya naik, kedelai kemarin jadi Rp14.500 per kilogramnya, sebelum Covid-19 itu pernah dapat harga Rp6.500 per kilo itu kedelai," tuturnya.

Selain kedelai, kebutuhan produksi seperti telur juga naik hingga angka Rp28 ribu - Rp30 ribu per kilogramnya.

Itu belum termasuk kenaikan harga minyak goreng yang menyentuh harga Rp245 ribu untuk kemasan 15 kilogram yang sering digunakannya.

Hasilnya pun dapat diprediksi, meski naik senyum manis Andi dan pelaku usaha lainnya juga tak begitu lebar.

"Kita enggak bisa langsung menaikkan harga keripik sekarang, oke harga naik, nanti kalau misalkan harga turun, ikut turun. Kita ada patokan menaikkan harga, kalau nggak kenaikan (ongkos produksi) nggak tinggi. Enggak bisa juga kita menipiskan potongan keripik, kita harus benar-benar menjaga kualitas produk, itu yang utama," jelasnya.

Untuk solusinya, dia terpaksa menaikkan harga keripik di reseller atau pihak ketiga yang bekerja sama.

Namun kenaikan pun tidak terlalu signifikan demi menjaga kepercayaan pembeli.

"Kalau yang di toko kita enggak naikkan, harga tetap. Jadi mau nggak mau laba kita yang terpaksa turun, tapi nggak apa-apa laba turun yang penting produksi tetap jalan," bebernya.

Pasalnya produksi keripik tempe Rohani miliknya juga memberdayakan sekitar 20 pekerja tetap baik yang memproduksi keripik tempe di dapur produksi, hingga supir yang mengantarkan produk - produk ke para reseller di seluruh Malang raya.

"Yang penting tetap produksi, karyawan kami tetap bisa berdaya, soal laba kita enggak masalah agak kurang," tukasnya.

(Zuhirna Wulan Dilla)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement