Tak hanya itu, mereka juga diberikan dana untuk melakukan research and development, paham mengenai isu-isu penting, dan berbagai hasil risetnya dipatenkan. Dari paten ini kemudian dibuatlah produk-produk yang bisa masuk ke dalam industri.
"Ini semuanya butuh banyak sekali, enggak cuma perlindungan, kalau terlalu dilindungi, dia juga akan menjadi lemah. Negara-negara itu kadang membuka supaya berkompetisi, sama seperti kalau Anda atlet, Anda tidak bisa bilang Anda juara bulutangkis nomor 1 di dunia, lalu kalau ditanya sudah pernah ikut pertandingan tapi ternyata belum. 'Ya saya bikin sendiri aja kalau saya yang paling bagus di RT saya, itu dunia saya', enggak bisa gitu. Anda harus ikut turnamen-turnamen bertanding dengan berbagai negara," ungkapnya.
Dia mengatakan, untuk bertanding ini butuh persiapan, pelatihan, asupan, dan diekspos dengan para 'jawara' lainnya. Maka dari itu, Sri menegaskan bahwa untuk menjadi negara high income, tidak bisa diam saja dalam tempurung.
"Anda harus keluar dari tempurung itu, kita melanglang buana, kita melihat, mencari ilmu, kita saingan, kadang kita kalah, kadang kita bisa menang juga. Jadi enggak ada yang namanya tiba-tiba menjadi bagus," sambung Sri.