"Meskipun demikian, pada Maret 2023 terdapat 47,3 persen pelaku usaha yang menyatakan kondisi kegiatan usahanya stabil dan sebanyak 27,3 persen pelaku usaha yang menyatakan kondisi kegiatan usahanya mengalami peningkatan," katanya.
Demikian pula dengan optimisme berusaha para pelaku usaha dalam enam bulan ke depan. Febri menjelaskan, sebanyak 63,49 persen pelaku usaha menyatakan optimis dan 26,06 persen pelaku usaha menyatakan stabil terhadap kondisi usaha industri selama enam bulan ke depan.
Hal ini juga dapat dilihat dari tingkat pesimisme pelaku usaha yang mengalami penurunan dari 10,81 persen pada Februari 2023 menjadi 10,46 persen pada Maret 2023.
Optimisme pelaku usaha bahwa kondisi pasar akan membaik, didukung oleh kebijakan pemerintah pusat yang lebih baik sebagaimana laporan perusahaan industri.
Lebih lanjut, jika dilihat secara subsektor, pada bulan Maret terdapat beberapa subsektor yang terdampak aktivitas jelang puasa dan hari raya, seperti industri makanan dan minuman (kebutuhan primer) dengan ekspansi yang semakin tinggi.
Namun, beberapa subsektor yang terkait kebutuhan sekunder masih mengalami kontraksi dan beberapa lainnya mengalami perlambatan. Industri tersebut di antaranya industri pakaian jadi, dan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki yang masih dalam kondisi kontraksi walaupun tidak sedalam bulan sebelumnya.
Demikian pula dengan industri barang galian bukan logam yang sebagian besar produknya merupakan material konsumsi. Berbeda dengan subsektor di atas, industri komputer, barang elektronik dan optik mengalami kontraksi akibat masalah kesulitan bahan baku.
Sementara itu, industri karet barang dari karet yang juga mengalami kontraksi disebabkan adanya proses bisnis pada industri ban yang merupakan kontributor terbesar subsektor barang karet.
Adapun di industri agro, kontraksi industri furnitur disebabkan oleh resesi ekonomi yang dialami oleh beberapa negara tujuan utama ekspor seperti Eropa dan Amerika.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)