KOTA MALANG - Cuaca hujan dan tak bersahabat di Malang membuat pelaku usaha cincau gigit jari selama bulan Ramadhan tahun 2023 ini.
Pelaku usaha pembuatan cincau legendaris di Kota Malang kini mengeluh.
BACA JUGA:
Bahkan ketika ditemui MNC Portal di rumahnya yang digunakan untuk produksi cincau, dia sedang libur dua hari.
Hanya terlihat produk cincau dalam kotak dan ember, yang siap disuplai ke beberapa pembeli.
Sedangkan tak ada aktivitas apapun dari produksi dan pengemasan cincau ini.
Haryati, pengusaha cincau menuturkan, produksi cincau di Ramadhan tahun 2023 ini merosot tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
BACA JUGA:
Hal ini disebabkan sepinya pembeli yang berimbas pada pengurangan produksi cincau selama bulan Ramadhan ini.
"Dengan tahun kemarin jauh, sekarang sepi, nggak kayak tahun kemarin, bikinnya per dua hari sekali, nggak tiap hari kayak dulu, sekarang sepi sejak awal puasa kemarin," kata Haryati ditemui di rumahnya pada Rabu siang (5/4/2023).
Perempuan berusia 37 tahun ini menyebut, jika tahun lalu dia mampu memproduksi 200 hingga 250 kotak pesanan ukuran besar, saat ini menurun cukup drastis. Bahkan dia hanya memproduksi 90 - 100 kotak itu pun dalam rentang waktu dua hari sekali, dengan satu kotaknya dijual seharga Rp50.000.
"Turun hampir 50% lebih, cuma 90 - 100, kalau sebelumnya (puasa Ramadhan tahun lalu) 200 sampai 250, itu bahkan barangnya kurang, banyak yang nggak kebagian," ungkapnya.
Alhasil untuk menutup kerugian beban operasional, dia terpaksa memproduksi cincau hanya dua hari sekali dibantu empat orang karyawannya.
Padahal harga bahan baku cincau pun juga masih cukup stabil.
Bahkan di jenis cincau daun misalnya harganya cukup murah berkisar Rp27 ribu - Rp30 ribu per kilogramnya, jauh dibandingkan harga Ramadan tahun lalu yang mencapai Rp70 - Rp75 ribu. Tetapi murahnya harga juga tak membuat pembeli cincau meningkat.
"Bahan baku murah lah masih stabil, cuma yang beli Tahun kemarin itu daunan pernah Rp70 ribu, Rp75 ribu, sekarang cuma Rp30 ribu, ada yang Rp27 ribu, Rp28 ribu, tambah murah, bahkan turun, tahun lalu (cincau) daun mahal, itu tambah ramai. Dulu Rp70 ribu, Rp75 ribu malah ramai, tapi barangnya nggak ada, daunnya sulit, sekarang barangnya daunnya banyak, tapi membelinya sepi," keluhnya.
Dia menduga sepinya pembeli di momen Ramadhan karena banyak pesaing pembuatan cincau.
Selain itu, hujan deras yang kerap turun siang hingga malam hari di Kota Malang membuat penjual minuman es dan aneka takjil di Malang sepi pembeli.
"Ini pertama kalinya sepi, sebelum-sebelumnya nggak pernah, Covid kemarin itu tambah ramai, habis Covid tambah sepi. Mungkin sekarang banyak yang bikin banyak, atau sekarang masalah musim juga kayak gini berkurang, kan sekarang sore hujan terus, orang mungkin ya malas minum es," terangnya.
Meski demikian, dia mencoba bertahan mempertahankan eksistensi pembuatan cincau dari resep nenek moyangnya dahulu dari Cina.
Apalagi dia yang merupakan generasi keempat bertekad agar produksi cincau khas resep nenek moyangnya terus bertahan.
"Saya ini generasi keempat, dulu yang merintis mbah uyut, dulu yang bikin di sini doang, bahkan karyawannya Mbah Buyut itu ada yang dari Cina. Ini resep cincau dari Cina asli," bebernya.
"Sekarang pokoknya sehat saja enggak apa-apa, kalau dibilang minus nggak, cuma pas-pasan saja, disyukuri saja enggak apa-apa, yang penting sehat bisa cari lagi mungkin tahun depan bisa baik. Namanya rezeki nggak mesti, kadang ramai surut kan gitu," tandasnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.