Masih dalam skenario yang sama, rata-rata total investasi pembangkit listrik panas bumi dan EBT lainnya sebesar USD11,19 miliar atau setara Rp173,4 triliun (asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS) per tahunnya berdasarkan kondisi eksisting hari ini.
“Secara biaya akumulasi, pengembangan pembangkit geothermal juga masih lebih mahal dibandingkan dengan EBT lainnya, seperti tenaga biomassa, surya, dan air,” jelasnya.
Selain itu, tantangan industri geothermal pada sisi sosial, misalnya gesekan antara pelaku usaha dengan masyarakat di lokasi pengembangan PLTP.
“Untuk itu kami juga merekomendasikan perlu adanya komunikasi dan pendekatan ke masyarakat lokal dengan strategi khusus,” ujarnya.
(Feby Novalius)