Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kesejahteraan Meningkat, Jumlah Penduduk Miskin di Jateng Turun 66,73 Ribu Jiwa

Heri Purnomo , Jurnalis-Selasa, 18 Juli 2023 |16:39 WIB
Kesejahteraan Meningkat, Jumlah Penduduk Miskin di Jateng Turun 66,73 Ribu Jiwa
Kemiskinan Jateng turun (Foto: Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA – Jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah (Jateng) turun karena meningkatnya kesejahteraan. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah pada Maret 2023 tercatat 3,79 juta orang.

Kepala BPS Jateng Dadang Hardiwan mengatakan, jumlah tersebut mengalami penurunan hingga 66,73 ribu orang bila dibandingkan September 2022. Dan turun 39,94 ribu orang bila dibandingkan Maret 2022.

Di mana secara persentase angka tersebut mengalami penurunan menjadi 10,77% atau turun 0,21% poin bila dibanding September 2022 yang mencapai 10,98% atau 3,86 juta orang.

Dadang mengatakan, catatan positif perbaikan ekonomi, membawa tingkat penurunan kemiskinan mendekati saat sebelum pandemi Covid-19.

"Jumlah penduduk miskin Jateng Maret 2023 sebesar 3,79 juta orang. Atau turun 66,73 ribu orang bila dibandingkan September 2022. Dan turun 39,94 ribu orang bila dibandingkan Maret 2022," ucapnya, Selasa (18/7/2023).

Dadang menambahkan seiring dengan meredanya pandemi Covid-19 serta pemulihan ekonomi, kemiskinan di Jateng terus berangsur turun.

Selain itu, selama periode September 2022 sampai Maret 2023 tingkat inflasi cenderung rendah, berada pada 1,30%. Sedangkan pada Maret 2022-September 2022 inflasi menyentuh 3,60%.

Nilai Tukar Petani juga mengalami peningkatan pada Maret 2023 sebesar 107,52 dibandingkan September 2022 sebesar 105,97.

Selain itu, produksi padi pada Triwulan I 2023 mencapai 3,28 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik sebesar 1,10 juta ton, dibanding produksi padi Triwulan III 2022 sebanyak 2,18 juta ton GKG.

"Hasil catatan kami, yang memberikan pengaruh kepada kesejahteraan masyarakat, seperti penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT), pada Februari 2023 sebesar 5,24%, lebih rendah dibanding Februari 2022 sebesar 5,75%," urainya.

Terkait metodologi pengukuran kemiskinan, Dadang menyebut menggunakan Basic Needs Approach. Melalui pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement