JAKARTA - India stop ekspor beberapa kategori beras. Larangan ini dikarenakan kenaikan harga domestik dan kekhawatirannya akan terjadinya kekurangan hasil panen yang selanjutnya, hal tersebut dinilai dapat mendorong harga biji-bijian global saat rawan pangan menjadi hall yang cukup serius.
Dilansir VOA di Jakarta, India negara yang merupakan pengekspor beras terbesar di dunia, menyumbang 40% perdagangan beras ke global, yang di ekspor ke 140 negara.
Saat larangan tersebut diumumkan, pemerintah India mengatakan kalau harga beras mereka itu telah naik 11,5%. Bahkan di satu bulan terakhir kenaikan yang terjadi itu bisa mencapai 30%.
Dalam pernyataannya, Kementerian Urusan Konsumen India mengatakan telah mengubah kebijakan ekspor guna memastikan ketersediaan beras putih non-basmati yang memadai di pasar India, dan untuk menahan kenaikan harga di pasar domestik.
India mengumumkan kalau langkah pelarangan itu hanya tiga hari setelah Rusia menangguhkan “Bllack Sea Grain Initiatives” yang mengizinkan pengiriman (ekspor) Ukraina lewat Laut Hitam secara aman, memicu peringatan bahwa kedua kebijakan itu berpotensi menyebabkan lonjakan harga.
Salah satu editor pertanian di surat kabar Indian Express, Harish Damodaran, mengatakan pada VOA mengatakan dampak larangan beras di India pasti akan terasa pada harga global. Ini hanya beberapa hari setelah Rusia memutuskan tidak memperpanjang kesepakatan soal biji-bijian.
"Saat terjadi guncangan harga gandum, larangan ekspor beras India dapat menciptakan guncangan lebih lanjut di pasar pangan global," katanya.
Para analis memperkirakan India tidak mungkin melonggarkan pembatasan itu, setelah bergulat dengan inflasi pangan.