JAKARTA - Dalam menjalani bisnis keluarga ternyata banyak tantangan yang tak mudah dilewati.
Melalui buku berjudul 'Go Perpetuate: How to Beat the 3rd Generation Curse' yang ditulis Hadi Cahyadi mengulas tantangan dan solusi bisnis keluarga (family business) di Indonesia.
BACA JUGA:
Hadi menekan tiga poin substansial agar family business dapat melakukan transisi antar generasi dengan usaha yang diemban. Ketiga aspek yang dimaksud adalah profesionalisme, kolaboratif, dan dan kecerdasan generasi.
Tiga poin itu menjadi solusi taktis di tengah permasalahan dan dilema universal yang dihadapi pemilik bisnis keluarga atau dikenal dengan sebutan 'thirdgeneration curse'.
Sebagian besar bisnis tidak akan bertahan lebih dari tiga generasi. Sedangkan, hanya tiga persen family business yang bisa bertaha dari generasi ke generasi. Persentase ini berdasarkan studi yang dilakukan Hadi di Indonesia.
Terkait profesionalisme, Hadi menekan pentingnya mengelola binis keluarga secara profesional. Dalam konteks ini, harus membedakan kepentingan keluarga dengan bisnis.
BACA JUGA:
Lalu, mempersiapkan generasi penerus yang cerdas. Sifat bisnis keluarga adalah dengan mewariskan bisnis ke generasi selanjutnya. Namun, masalah yang dihadapi adalah bisnis keluarga akhirnya collapse lantaran dipegang oleh generasi yang tidak kompeten.
Hadi juga menekan pentingnya kolaboratif atau kerja sama dengan pihak profesionalisme lain yang tidak memiliki hubungan darah dengan pemilik bisnis.
"Dalam buku disuruh kita harus profesional, kolaborasi dengan para profesional, yaitu para profesional yang tidak ada hubungannya dengan family business, darah, dan kemudian bersama-sama memperbaiki anak-anak, kerjanya dengan baik, kalau gak baik ya gak usah jadi bos," ujar Hadi kepada MNC Portal, Minggu (8/10/2023).
"Dalam arti kata itu yang namanya married system, bahwa married teokrasi jadi paling pintar yang jadi pimpinan dan boleh masuk dalam family business. Jadi gak semua orang family owner itu bisa masuk ke bisnis," lanjut dia
Hadi membeberkan hanya tiga persen bisnis keluarga atau family business di Indonesia yang bisa bertahan.
BACA JUGA:
Berdasarkan riset yang dia dapatkan dan dituangkan dalam buku 'Go Perpetuate: How to Beat the 3rd Generation Curse' hanya 13 persen bisnis keluarga yang melewati generasi ketiga. Sedangkan, 30 persen yang melewati generasi kedua.
"Pada saat riset saya mendapatkan satu fenomena, family business hanya 30 persen yang melewati generasi kedua dan hanya 13 persen yang melewati generasi ketiga, dan hanya tiga persen melewati generasi selanjutnya," tuturnya.
Dari fakta di lapangan, lanjut Hadi, family business di Tanah Air mendapat tantangan yang kompleks. Pasalnya, bisnis yang digeluti keluarga konglomerasi yang mampu bertahan hingga melewati generasi ketiga dan selanjutnya hanya tiga persen saja.
Padahal, family business menjadi instrumen penting dalam pertumbuhan makro ekonomi nasional. Hadi mencatat, bisnis keluarga mendukung pemerintah untuk mengatasi masalah sosial, ekonomi, dan menyerap lapangan pekerjaan.
Dengan begitu, lini bisnis yang diemban keluarga perlu didukung dan diatasi kendalanya, terutama bagaimana mengatasinya saat mereka menjalani transisi antargenerasi.
"Situasi apapun, makro akan menjadi ter-support kalau family business ini diperbaiki oleh pemerintah, di-support oleh pemerintah, karena pemerintah mesti tau bahwa semua dalam insan bisnis itu ada BUMN, ada family business, dan ada penanaman modal asing atau investor. Padahal yang paling besar ada family business mas," ungkap Hadi.
(Zuhirna Wulan Dilla)