Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Konsumsi Masyarakat Membaik, Industri Hotel Harap Cuan di Libur Akhir Tahun

Tangguh Yudha , Jurnalis-Kamis, 27 November 2025 |20:18 WIB
Konsumsi Masyarakat Membaik, Industri Hotel Harap Cuan di Libur Akhir Tahun
Konsumsi Masyarakat Membaik, Industri Hotel Harap Cuan di Libur Akhir Tahun (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Menjelang momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, konsumsi masyarakat menunjukkan tren pemulihan. Kondisi ini diharapkan mampu menjadi pendorong bagi industri perhotelan yang sepanjang 2025 mengalami tekanan.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, periode libur akhir tahun biasanya menjadi puncak kunjungan atau peak season bagi sektor hotel. Dia berharap momentum tersebut dapat membantu menahan penurunan okupansi yang terjadi sejak awal tahun.

“Di minggu ke-3 sudah mulai libur, khususnya minggu ke-4 berganti ke fase liburan. Harapan kita tentu momentum libur Nataru tidak makin menggerus posisi okupansi yang gak tumbuh tahun ini, dan tidak memperdalam loss revenue sepanjang tahun,” ujarnya saat dihubungi Okezone, Jakarta, Kamis (27/11/2025).

Yusran menambahkan, salah satu harapan pelaku industri datang dari insentif pemerintah berupa diskon pajak hotel. Ia menyebut kebijakan tersebut berpotensi menjaga tingkat okupansi, meski implementasinya masih perlu dipastikan berjalan efektif.

"Tentu harapan itu juga ditopang dengan adanya insentif pemerintah berupa diskon agar tidak terkait masalah tax-nya ya. Itu menjadi harapan. Tapi kita gak tahu apakah implementasi itu berjalan sesuai dengan yang menjadi tujuan dari pemerintah memberikan insentif itu. Karena kalau itu emang berhasil, berarti kan bisa menjaga situasi okupansi di bulan Nataru nanti," lanjutnya.

 

Yusran mengungkapkan bahwa kinerja industri hotel pada 2025 sendiri mengalami perlambatan signifikan dibandingkan 2024. Salah satu penyebab utamanya adalah menurunnya aktivitas pemerintah, yang selama ini menjadi pasar terbesar sektor perhotelan.

"Karena pasar terbesar kita kan adanya di pasar pemerintah. Biasanya di penghujung tahun itu justru malah meningkatkan kegiatan aktivitasnya. Kalau kita perhatikan seperti di Jakarta, itu masih bagus lah. Tapi kalau sudah bergeser ke berbagai daerah, kegiatannya itu sangat minim," jelasnya.

Yusran mengungkap, rata-rata tingkat okupansi hotel tahun ini diperkirakan hanya berada di kisaran 45%, jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Pemangkasan anggaran kementerian/lembaga juga turut menekan tingkat hunian.

Yusran menjelaskan bahwa kontribusi kegiatan pemerintah terhadap bisnis hotel secara nasional sangat besar, bahkan bisa mencapai 60–80%. Ia berharap agar penyebaran APBN bisa dilakukan secara merata sehingga industri hotel juga mendapatkan jatah manfaat darinya.

"Penyebaran APBN itu yang dibutuhkan. Misalnya ada proyek infrastruktur, pengadaan barang dan jasa, dan sebagainya. Kalau dari nasional itu kan mereka berpergian ke daerah. Nah proses itu kan yang diuntungkan juga salah satunya adalah hotel. Karena mereka pasti akan menginap di hotel," pungkasnya.
 

(Dani Jumadil Akhir)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement