Analis dari ING menyebutkan bahwa perdebatan kini berpusat pada implikasi perubahan rezim yang didorong oleh AS di Venezuela. Ketidakpastian ini justru meningkatkan daya tarik likuiditas mata uang dolar AS.
Di sisi lain, Presiden Trump terus melontarkan peringatan keras. Saat berbicara kepada wartawan di pesawat Air Force One, ia menyebutkan kemungkinan serangan militer kedua jika pemerintahan sementara Venezuela tidak bersikap kooperatif.
Selain Venezuela, Trump juga menyoroti potensi tindakan terhadap Kolombia terkait peran negara tersebut dalam perdagangan narkoba, serta menyebut bahwa Kuba “siap untuk jatuh”. Ia juga menegaskan kembali ambisinya agar AS mengendalikan Greenland demi alasan keamanan nasional.