JAKARTA – Penurunan emisi pada sektor industri masih menghadapi sejumlah tantangan, meski adopsi energi terbarukan terus menunjukkan tren pertumbuhan. Kondisi ini membuat upaya penurunan emisi sulit dikelola secara berkelanjutan dalam jangka panjang.
Kendala penurunan emisi di sektor industri disebabkan berbagai inisiatif dekarbonisasi yang masih kerap dijalankan secara terpisah di tingkat fasilitas perusahaan. Pemasangan sistem energi bersih yang belum terintegrasi antarlokasi produksi menjadi salah satu hambatan utama.
Selain itu, keterbatasan pemantauan data energi secara terpusat serta kompleksitas operasional pada perusahaan dengan banyak lokasi produksi turut memperbesar tantangan dalam menekan emisi.
Menurut CEO SUN Energy, Emmanuel Jefferson Kuesar, pengembangan teknologi akan menjadi kunci utama dalam mempercepat dekarbonisasi industri ke depan. Upaya ini tidak hanya berfokus pada pemanfaatan energi surya, tetapi juga mencakup pengembangan teknologi penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System (BESS), khususnya bagi sektor industri dengan kebutuhan energi tinggi dan operasional kompleks, seperti pertambangan dan manufaktur berat.
“Integrasi antara pembangkitan, penyimpanan, dan sistem manajemen energi menjadi fondasi penting untuk memastikan keandalan pasokan sekaligus efisiensi emisi,” ujarnya, Kamis(8/1/2026).
Selain penguatan teknologi, kolaborasi lintas ekosistem dengan kawasan industri juga perlu diperluas. Kerja sama ini mencakup pembangunan sistem energi terintegrasi, termasuk elektrifikasi armada kendaraan operasional serta pengembangan infrastruktur kendaraan listrik.
“Pendekatan ini memungkinkan industri mengelola energi dan emisi secara menyeluruh, mulai dari sumber energi, penyimpanan, hingga mobilitas, sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang,” lanjut Emmanuel.