JAKARTA - Arab Saudi telah mengumumkan penemuan harta karun cadangan emas di Makkah. Hal ini diumumkan perusahaan pertambangan terkemuka, Maaden.
Mengutip Al-Monitor, Sabtu (17/1/2026) Maaden adalah perusahaan pertambangan terbesar di Arab Saudi dan memiliki peran besar dalam pengelolaan tambang emas.
Kapasitas produksi tambang emas baru ini diperkirakan mencapai 250.000 ons emas per tahun dan memiliki cadangan 7 juta ons. Artinya, tambang ini mampu memberikan tambahan sekitar 2,27% dari total produksi saat ini.
Akan tetapi, data menunjukkan Arab Saudi belum termasuk dalam 20 negara produsen emas terbesar di dunia.
Arab Saudi tengah bersiap untuk mengalami gold rush dalam sektor pertambangan pada 2024, seiring dengan rencana kerajaan untuk memanfaatkan permintaan yang meningkat terhadap mineral kritis untuk mendukung transisi hijau.
Dalam upaya untuk diversifikasi ekonominya yang selama ini sangat bergantung pada sektor minyak, Arab Saudi hampir menggandakan estimasi mineral belum dimanfaatkan menjadi USD2,5 triliun dan mengumumkan insentif baru bagi para penambang
Kerajaan menyatakan rencananya untuk memberikan lebih dari 30 lisensi eksplorasi pertambangan kepada investor internasional tahun ini. Estimasi sumber daya mineral yang belum dimanfaatkan tersebut mencakup emas, tembaga, fosfat, dan unsur logam tanah jarang.
Sebagian besar akan sangat dibutuhkan dalam berbagai bentuk energi terbarukan dan bahan bebas karbon. Permintaan global untuk tembaga, misalnya, diperkirakan akan hampir dua kali lipat menjadi 49 juta ton metrik pada 2035 untuk menuju transisi hijau.
Kontrak pertambangan ini akan memberikan sumber modal baru bagi Arab Saudi, yang sebelumnya mengandalkan kekayaan dari sektor minyak. Hal ini sejalan dengan Agenda Visi 2030, di mana Arab Saudi berkomitmen untuk mendiversifikasi ekonominya dari sektor hidrokarbon.
Pemerintah Arab akan memperkuat kontribusi sektor pertambangan terhadap ekonomi dengan empat kali lipat hingga 2030.
Saat ini, perlombaan untuk mendapatkan critical mineral yang diperlukan untuk mendukung transisi energi sedang berlangsung antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia.
Arab Saudi, yang dikenal sebagai produsen minyak terkemuka, menjadi pusat perhatian dalam pertarungan ini.
Konferensi pertambangan yang diadakan di Riyadh pekan ini menarik perhatian pejabat pemerintah dan eksekutif pertambangan terkemuka dari seluruh dunia.
Arab Saudi berusaha memposisikan diri sebagai pusat wilayah pertambangan super yang membentang dari Asia Tengah hingga Timur Tengah dan Afrika, yang diperkirakan memiliki setidaknya sepertiga dari sumber daya alam dunia, termasuk mineral kritis.
(Taufik Fajar)