Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, Josua menilai peluang penurunan BI-Rate pada RDG Januari secara teori tetap ada, namun relatif kecil selama tekanan terhadap rupiah belum mereda. Ia menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter akan lebih realistis ketika stabilitas nilai tukar kembali terjaga, arus modal membaik, serta arah inflasi semakin jelas terkendali.
"Pemangkasan BI-Rate secara teori tetap mungkin, tetapi peluangnya kecil ketika rupiah masih rapuh. Ruang pemangkasan biasanya baru lebih realistis ketika tekanan kurs mereda, arus dana kembali membaik, dan arah inflasi semakin jelas terkendali," kata Josua.
Sejalan dengan pola kebijakan BI selama ini, Josua memperkirakan peluang penurunan suku bunga baru akan terbuka paling cepat pada akhir kuartal II 2026 atau awal semester II 2026, seiring dengan membaiknya kondisi eksternal dan stabilitas pasar keuangan domestik.
(Taufik Fajar)