Tidak hanya Timur Tengah, konflik Rusia–Ukraina juga dinilai masih jauh dari kata selesai. Ibrahim memperkirakan perang di Eropa Timur berpotensi berlanjut hingga dua hingga tiga tahun ke depan, disertai ancaman embargo lanjutan yang dapat mengerek harga minyak, gas alam, dan komoditas strategis lainnya.
“Kalau perang meluas, inflasi global akan kembali tinggi. Dalam kondisi seperti itu, emas hampir selalu jadi pelarian utama investor,” tegasnya.
Perang dagang global kembali membara. Hubungan AS dengan Uni Eropa, China, Jepang, Korea Selatan, hingga negara berkembang dinilai masih berada di jalur konfrontatif. Kebijakan tarif baru dan ancaman balasan diperkirakan akan berlangsung hingga beberapa tahun ke depan.
“Ini bukan hanya perang dagang, tapi sudah masuk ke perang mata uang. Dolar tertekan, dan itu sangat menguntungkan emas,” kata Ibrahim.
Dari sisi fundamental, permintaan emas global juga terus meningkat. Bank sentral dunia, terutama dari China, Rusia, India, hingga negara-negara Eropa dan Amerika Latin, tercatat agresif menambah cadangan emas sebagai diversifikasi dari dolar AS.
“Permintaan naik, tapi suplai terbatas. Ini kombinasi sempurna untuk reli emas jangka panjang,” kata Ibrahim.
(Dani Jumadil Akhir)