JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mempertimbangkan perkembangan kondisi fiskal saat menarik utang baru. Pemerintah menargetkan penarikan utang anyar mencapai Rp832,20 triliun untuk menambal defisit APBN 2026 sebesar Rp689,14 triliun.
Menurutnya, anggaran Kementerian Keuangan di luar alokasi dana reguler bisa saja digunakan untuk mengurangi margin utang. Namun, pemerintah lebih memilih memperkuat fundamental ekonomi, yang berdampak positif bagi perekonomian.
"Saya punya cash sekarang Rp270 triliun di luar anggaran yang bisa dipakai untuk mengurangi surat utang langsung. Saya ingin uang itu dipakai untuk men-drive pertumbuhan ekonomi, sehingga PDB tumbuh kencang. Dengan utang yang sama, rasio utang terhadap PDB kan jadi turun," ujar Purbaya dalam diskusi di Graha CIMB, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Purbaya mengatakan rasio utang Indonesia masih terkendali meski total utang menyentuh hampir Rp10.000 triliun pada kuartal III 2025. Publik diimbau untuk tidak khawatir soal kemampuan negara membayar utang.
Dia menambahkan, dalam rezim internasional, kecenderungan menilai beban utang suatu negara lebih didasarkan pada kemampuan membayar utang, walaupun ada sedikit perbedaan dengan pertumbuhan domestik bruto (PDB). Dengan demikian, kolapsnya keuangan negara tidak semata-mata ditentukan dari persentase utang.