JAKARTA - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dikerahkan untuk menutup Selat Hormuz di tengah situasi memanas di Kawasan Timur Tengah imbas penyerangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu 28 Februari 2026.
"Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran," kata kata Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari dilansir AFP.
Sebelumnya pada hari itu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan juga menargetkan infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Perwakilan IRGC mengatakan bahwa Israel "salah perhitungan" dengan menyerang Iran.
Dengan mengutip pernyataan Kementerian Pendidikan Iran, Kantor berita ISNA melaporkan bahwa sekolah-sekolah di Iran telah ditutup atau untuk sementara beralih ke pembelajaran daring di tengah serangan AS dan Israel.
Selat Hormuz Jalur Vital
Selat Hormuz adalah jalur laut selebar 33 km yang menjadi penghubung utama antara Teluk Persia dan Laut Oman. Keberadaannya sangat penting mengingat peran vitalnya sebagai jalur perdagangan.
Melansir Arab News, jalur ini dilewati sekitar 20% dari konsumsi minyak dunia setiap hari. Selain itu, ada juga seperlima dari perdagangan gas alam cair (LNG) dunia, terutama dari Qatar
Dampak Langsung terhadap Pasar Energi Global
Tak heran, penutupan ini bisa menjadi mimpi buruk bagi pasar energi dan ekonomi global, sehingga akan muncul sejumlah dampak yang saling berkaitan.
Penutupan Selat Hormuz berarti menyumbat aliran minyak dan LNG dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak. Tanpa jalur alternatif yang setara, pasokan global akan terganggu.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.