Dia mengingatkan dampak konflik bukan hanya pada sektor perdagangan, tetapi juga arus modal. Jika inflasi global meningkat akibat lonjakan harga energi, bank sentral negara maju berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga dana asing keluar dari pasar negara berkembang.
Konsekuensinya, rupiah bisa kembali tertekan, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) naik, dan Indeks Harga Saham Gabungan berpotensi bergerak volatil. Di sisi lain, biaya pembiayaan korporasi juga akan semakin mahal.
"Indonesia akan banyak tergantung pada investor asing di pasar obligasi negara, akibat dari kenaikan harga energi ini. Karena kan kita net importir energi, dan implikasinya tentu ke moneter maupun keuangan," kata Rizal.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.