Data BI menunjukkan bahwa pada Januari 2026, penjualan eceran sempat mengalami kontraksi bulanan sebesar 2,7 persen (mtm). Hal ini dinilai sebagai fenomena yang wajar akibat normalisasi konsumsi masyarakat setelah berakhirnya momentum libur Natal dan Tahun Baru. Meski demikian, secara tahunan sektor sandang, makanan, minuman, dan tembakau tetap tumbuh stabil.
Dari sisi pergerakan harga, BI memproyeksikan tekanan inflasi pada tiga bulan mendatang (April 2026) akan mulai melandai seiring dengan berakhirnya momentum Lebaran. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) April 2026 yang sebesar 153,9, jauh lebih rendah dibandingkan IEH Maret 2026 yang menyentuh 175,7.
Namun, masyarakat diimbau untuk mewaspadai kenaikan harga kembali pada bulan Juli 2026.
"IEH Juli 2026 diprakirakan sebesar 157,1, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH pada Juni 2026 sebesar 156,3, didorong oleh peningkatan harga saat tahun ajaran baru," jelas Ramdan.
Kenaikan penjualan eceran ini diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal pertama tahun 2026, di tengah dinamika ekonomi global yang sedang bergejolak.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.