JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Selasa (10/3/2026), naik 86 poin atau sekitar 0,51 persen ke level Rp16.863 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan Trump dan berbagi proposal yang bertujuan untuk penyelesaian cepat perang Iran, menurut seorang ajudan Kremlin, meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan yang berkepanjangan.
“Trump mengatakan pada hari Senin dalam sebuah wawancara dengan CBS News bahwa ia berpikir perang melawan Iran sangat lengkap dan bahwa Washington jauh lebih maju dari perkiraan jangka waktu awalnya selama empat hingga lima minggu,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Sebagai tanggapan terhadap Trump, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan mereka akan "menentukan akhir perang," dan Teheran tidak akan mengizinkan "satu liter minyak pun" diekspor dari wilayah tersebut jika serangan AS dan Israel berlanjut, media pemerintah melaporkan pada hari Selasa, mengutip juru bicara IRGC.
Namun, harga tetap berada di bawah tekanan karena Trump mempertimbangkan untuk melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia dan melepaskan cadangan minyak mentah darurat sebagai bagian dari serangkaian opsi yang bertujuan untuk menekan lonjakan harga minyak global, menurut beberapa sumber.
Negara-negara G7 pada hari Senin mengatakan mereka siap untuk menerapkan "langkah-langkah yang diperlukan" sebagai respons terhadap melonjaknya harga minyak global, tetapi tidak sampai berkomitmen untuk melepaskan cadangan darurat.
Dari sentimen domestik, Cadangan devisa Indonesia dikhawatirkan semakin tergerus seiring pelemahan rupiah akibat tekanan global, terutama imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Posisi cadangan devisa Indonesia pada Februari 2026 pun sudah semakin menipis, hingga tersisa USD151,9 miliar. Jumlah itu kian susut, dari posisi awal pada Januari 2026 sebesar USD154,6 miliar.
Bank Indonesia (BI) mengakui cadangan devisa menyusut akibat langkah intervensi moneter yang dilakukan ketika deretan sentimen sejak awal tahun menekan rupiah. Belum lagi, pembayaran utang luar negeri pemerintah turut mengurangi porsi cadangan devisa.
Kendati demikian, bank sentral memastikan kecukupan cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Kemudian, kecukupannya berada di atas standar internasional yaitu sekitar 3 bulan impor.
Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Ke depannya sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai, serta aliran masuk modal asing. Optismisme itu bersandar kepada persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.820-Rp18.870 per dolar AS.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.