Beberapa sentimen yang menjadi pendorong kenaikan emas pada 2025, yaitu tiga kali pemangkasan suku bunga dengan total 75 basis poin melalui keputusan FOMC, konflik Timur Tengah (Israel–Iran), perang AS–Ukraina, serta ketegangan AS–China. Selain itu, total pembelian emas oleh bank sentral hanya mencapai sekitar 863 ton, lebih rendah dibanding periode 2022–2024. Pergerakan dolar AS yang cenderung volatil, dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan moneter dan ekspektasi suku bunga, turut meningkatkan alokasi ke emas.
"Hal ini memberikan gambaran bahwa kombinasi faktor makro dan geopolitik mendorong reli emas sepanjang 2025,” ungkap Tiffani.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.