JAKARTA - Harga emas diprediksi akan terus naik hingga akhir tahun ini. Diperkirakan harga emas berada di kisaran USD5.500–USD6.000 per ounce hingga akhir 2026.
Analis dari Research and Development ICDX, Tiffani Safinia, mengatakan beberapa lembaga keuangan global telah menaikkan proyeksi harga emas untuk tahun ini, yang didorong oleh risiko geopolitik global yang persisten serta permintaan struktural dari bank sentral.
"Ini mencerminkan ekspektasi reli yang semakin menguat di tengah ketidakpastian geopolitik dan pembelian agresif oleh bank sentral," ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Menurut Tiffani, dalam jangka pendek, pergerakan emas masih dipengaruhi dinamika dolar AS, imbal hasil obligasi, dan perkembangan konflik global. Namun secara keseluruhan, harga emas diproyeksikan berada di kisaran USD5.500–USD6.000 per ounce hingga akhir 2026, dengan volatilitas yang tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Berdasarkan poll Reuters terhadap 30 analis dan trader internasional, median proyeksi harga emas untuk 2026 berada di USD4.746,50 per ounce, melonjak signifikan dibanding estimasi USD4.275 yang dirilis pada Oktober sebelumnya.
Di tingkat institusional, Goldman Sachs Group Inc. merevisi naik target harga emas akhir 2026 menjadi USD5.400 per ounce dari sebelumnya USD4.900, dengan menyoroti meningkatnya permintaan dari investor swasta dan bank sentral sebagai katalis utama.
J.P. Morgan juga berada di kubu optimistis dengan proyeksi harga emas mencapai USD6.300 per ounce pada kuartal IV-2026. Sementara itu, Morgan Stanley mematok proyeksi rata-rata USD4.600, dengan skenario bullish mencapai USD5.700 pada paruh kedua 2026.
Tahun 2025 menjadi salah satu tahun terbaik bagi emas dalam beberapa dekade, sekaligus memperkuat perannya sebagai aset safe haven dan instrumen diversifikasi yang relevan di tengah ketidakpastian global. Secara garis besar, sepanjang 2025 terdapat beberapa poin penting:
"Pertama, sepanjang 2025 harga emas naik signifikan sebesar 64 persen dengan 53 all-time highs. Kedua, all-time high tercatat USD4.550 per ounce pada 26 Desember 2025. Ketiga, rata-rata harga sekitar USD3.431 per ounce, dan keempat, pembelian emas oleh bank sentral mencapai sekitar 863 ton," katanya.
Beberapa sentimen yang menjadi pendorong kenaikan emas pada 2025, yaitu tiga kali pemangkasan suku bunga dengan total 75 basis poin melalui keputusan FOMC, konflik Timur Tengah (Israel–Iran), perang AS–Ukraina, serta ketegangan AS–China. Selain itu, total pembelian emas oleh bank sentral hanya mencapai sekitar 863 ton, lebih rendah dibanding periode 2022–2024. Pergerakan dolar AS yang cenderung volatil, dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan moneter dan ekspektasi suku bunga, turut meningkatkan alokasi ke emas.
"Hal ini memberikan gambaran bahwa kombinasi faktor makro dan geopolitik mendorong reli emas sepanjang 2025,” ungkap Tiffani.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.