JAKARTA — Nilai tukar Rupiah terus melemah dan sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi siang.
Pada penutupan sore ini, Rupiah tercatat melemah 39 poin atau sekitar 0,23 persen ke level Rp16.997 per dolar AS.
Mengacu pada data Bloomberg, Senin (16/3/2026) pukul 14.34 WIB, Rupiah mengalami depresiasi 0,25 persen ke posisi Rp17.000, melanjutkan tren negatif dari penutupan Jumat (13/3/2026) yang berada di level Rp16.958 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan terhadap Rupiah dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, terkait penutupan Selat Hormuz menjadi pemicu utama lonjakan harga minyak dunia.
Penutupan jalur vital yang dilalui 20 persen pasokan migas global ini dianggap sebagai gangguan pasokan paling signifikan dalam sejarah pasar energi, memicu kekhawatiran global akan gelombang inflasi baru.
“Para pelaku pasar dan analis khawatir lonjakan harga minyak yang besar akan berdampak ke seluruh dunia dalam bentuk guncangan inflasi,” ujar Ibrahim, dikutip Senin (16/3/2026).
Ibrahim memperkirakan pergerakan Rupiah hingga penutupan perdagangan hari ini masih akan diwarnai volatilitas tinggi dengan kecenderungan melemah.
Estimasi rentang pergerakan Rupiah hari ini berada pada support Rp16.960 dan resisten Rp17.020.
Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap waspada (wait and see) sambil memantau perkembangan di Timur Tengah, yang berpotensi terus menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.