Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Wall Street Turun, Investor Cemas Lonjakan Harga Minyak Picu Inflasi

Feby Novalius , Jurnalis-Jum'at, 20 Maret 2026 |09:06 WIB
Wall Street Turun, Investor Cemas Lonjakan Harga Minyak Picu Inflasi
Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat. (Foto; Okezone.com/Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat, dipicu kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak dunia. Investor juga pesimis terhadap potensi penurunan suku bunga oleh The Fed pada tahun ini.

Indeks S&P 500 turun 0,27% dan ditutup di level 6.606,49 poin. Indeks Nasdaq melemah 0,28% menjadi 22.090,69 poin, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,44% ke posisi 46.021,43 poin.

Sebanyak delapan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 mencatat penurunan, dipimpin sektor material yang melemah 1,55%, diikuti sektor barang konsumsi non-esensial yang turun 0,87%. Hal ini dilaporkan Reuters, Jumat (20/3/2026).

Investor saat ini fokus pada pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang menyebut prospek ekonomi masih tidak pasti di tengah konflik AS-Israel dengan Iran. Konflik tersebut mendorong lonjakan harga energi dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi.

The Fed pun mempertahankan suku bunga tetap, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Berdasarkan FedWatch CME, kontrak berjangka suku bunga menunjukkan peluang penurunan suku bunga yang kecil sebelum pertengahan 2027.

Sejalan dengan The Fed, Bank of England dan Bank Sentral Eropa juga mempertahankan suku bunga tetap stabil, sambil mencermati ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.

"Pasar mulai mencerna pernyataan Powell dan sejumlah bank sentral lainnya semalam bahwa ini merupakan risiko inflasi yang nyata," kata Kepala Riset dan Strategi Kuantitatif Horizon Investments di Charlotte, North Carolina, Mike Dickson.

Harga minyak mentah Brent sempat melonjak, meski masih berada di bawah level tertinggi sesi di USD119 per barel, setelah Iran menyerang target energi di Timur Tengah. Kondisi ini mendorong pemerintah AS mengambil langkah untuk memperluas pasokan.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement