JAKARTA - Berapa banyak pasokan minyak Indonesia yang melewati Selat Hormuz? Ini faktanya. Hingga saat ini, pemerintah bersama pihak-pihak terkait terus memperkuat koordinasi guna mendukung proses pelintasan kapal Indonesia yang berada di kawasan Teluk Persia agar dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Selat Hormuz merupakan jalur yang sangat vital, di mana sekitar 20 juta barel minyak atau 20% konsumsi dunia melintas setiap harinya. Penutupan atau pembatasan jalur ini akibat perang AS-Iran dapat berdampak pada keamanan energi nasional.
Lalu berapa banyak pasokan minyak Indonesia yang melewati Selat Hormuz? Berikut ini ulasannya:
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pernah mengatakan, sebanyak 20-25 persen pasokan minyak mentah Indonesia diimpor dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz. Menurutnya, Selat Hormuz membawa pasokan minyak mentah global sebanyak 20,1 juta barel per hari, termasuk untuk Indonesia.
"Total impor kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brasil. Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude 20-25 persen dari Selat Hormuz," ungkap Bahlil saat konferensi pers, Selasa 3 Maret 2026.
Bahlil menyebutkan bahwa Indonesia tidak mengimpor BBM bensin dari wilayah Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz. Khusus untuk LPG, Indonesia masih mengandalkan pasokan dari Saudi Aramco sebanyak 30 persen dari alokasi impor, sementara sisanya dipasok dari AS. Adapun total impor LPG Indonesia pada tahun ini sebesar 7,8 juta ton.
Sementara, PT Pertamina (Persero) menyatakan, 19 persen impor minyak Indonesia berasal dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz. Saat ini kargo minyak mentah yang berasal dari Timur Tengah berjumlah sekitar 19 persen dari nilai impor secara keseluruhan.
"Sekitar 19 persen dan saat ini kami sudah melaksanakan proses distribusi melalui sistem reguler alternatif maupun emergensi. Jadi untuk ketahanan energi nasional Pertamina telah menyampaikan sistem tersebut untuk bisa memenuhi kebutuhan nasional," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron dikutip Rabu 4 Maret 2026.