Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ada Selisih Rp9.000, Seberapa Kuat Menahan Harga BBM di Tengah Lonjakan Minyak Dunia?

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Jum'at, 10 April 2026 |07:18 WIB
Ada Selisih Rp9.000, Seberapa Kuat Menahan Harga BBM di Tengah Lonjakan Minyak Dunia?
Ada Selisih Rp9.000, Seberapa Kuat Menahan Harga BBM di Tengah Lonjakan Minyak Dunia? Ini Hitung-hitungannya (Foto: Dokumentasi)
A
A
A

DEN soal Pasokan Minyak

Sementara itu, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi, mengatakan di tengah situasi turbulent yang abnormal, andaikata punya uang, namun tidak ada barangnya (crude), maka tidak ada artinya. 

“Apalagi sekarang situasinya namanya sales market. Jadi market itu didikte oleh penjual,” ungkap Kholid. 

Menurut dia, saat ini Pertamina berada pada posisi sulit. Satu sisi, barang yang dibutuhkan sekarang jadi rebutan. Kedua, dari sisi regulasi, yakni harga ICP dalam APBN 2026 yang ditetapkan USD70 per barel. Padahal di pasar global, harganya sudah berada diatas USD100 per barel. 

“Dasar hukumnya apa untuk menyediakan BBM dan crude itu dengan harga di atas ICP. Makanya kita nanti perlu waspadai,” kata Kholid. 

Sementara, ekonom dari Universitas Indonesia Dipo Satria Ramli mengatakan berdasarkan perhitungan yang dilakukan, jika harga minyak dunia mencapai USD105 per barel dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp17 ribu, maka defisit APBN bisa mencapai 3,6% atau melampaui angka maksimal sebesar 3%.

“Kita apresiasi pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi. Tapi kan secara ekonomi, dia pindah dari beban APBN ke neraca Pertamina. Neraca Pertamina kita belum lihat data terakhirnya bulanan, tapi saya rasa mereka pun menghadapi banyak tantangan,” ungkap Dipo. 

Sementara itu, Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Hendra Gunawan, mengatakan di tengah potensi gangguan jalur distribusi energi global, khususnya yang melewati Selat Hormuz, pemerintah memperluas sumber pasokan energi dari berbagai kawasan dunia.

“Di samping sumber-sumber energi yang melewati Selat Hormuz, kita memperluas ke kawasan lain, antara lain dari Amerika Serikat, Afrika, Asia Timur dan Tengah,” kata dia.

Selain diversifikasi impor, pemerintah juga mengoptimalkan produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan eksternal. Optimalisasi ini mencakup pengalihan sebagian produksi untuk kebutuhan domestik.

“Untuk minyak mentah atau minyak bumi, optimalisasi hasil KKKS dilakukan untuk kepentingan domestik. Ditjen Migas memeriksa semua KKKS untuk mengalihkan ekspor yang diperlukan di dalam negeri, serta optimalisasi sumber daya domestik untuk produksi BBM dan LPG,” kata Hendra.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement