JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 50 poin atau sekitar 0,29 persen ke level Rp17.188 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen datang dari eksternal yakni optimisme bahwa konflik Timur Tengah mungkin akan segera berakhir setelah gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel mulai berlaku dan Presiden Donald Trump mengatakan AS dan Iran mungkin akan bertemu untuk melakukan pembicaraan pada akhir pekan.
“Menanggapi poin penting dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang Iran, yang telah menutup Selat Hormuz selama tujuh minggu dan mencekik sekitar seperlima pasokan minyak dunia, Trump mengatakan Teheran telah menawarkan untuk tidak memiliki senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Kampanye Israel di Lebanon telah menjadi hambatan utama untuk mengamankan kesepakatan perdamaian yang diinginkan Trump untuk mengakhiri perang terhadap Iran yang dilancarkannya dengan Israel pada akhir Februari.
Para negosiator AS dan Iran telah mengurangi harapan mereka akan kesepakatan perdamaian komprehensif dan sebagai gantinya berupaya mencapai memorandum sementara untuk mencegah kembalinya konflik, demikian menurut dua sumber Iran kepada Reuters pada hari Kamis.
Dari segi data, klaim pengangguran awal AS turun menjadi 207 ribu untuk pekan yang berakhir pada 11 April, di bawah perkiraan 215 ribu, dan di bawah angka pekan sebelumnya yaitu 218 ribu. Meskipun demikian, data ketenagakerjaan dan JOLTS baru-baru ini menunjukkan periode perekrutan dan PHK yang rendah.
Sementara itu, para pejabat Federal Reserve memperkuat jalur kebijakan bank sentral saat ini. Presiden Fed New York, John Williams, mencatat bahwa konflik di Iran memberikan tekanan ke atas pada harga dan mengantisipasi peningkatan inflasi utama. Ia juga berkomentar bahwa sikap kebijakan bank sentral saat ini telah tepat.
Dari sentimen domestik, ekonomi Indonesia tampak mengawali 2026 dengan cukup meyakinkan. Inflasi terjaga dan dekat dengan target Bank Indonesia, konsumsi rumah tangga juga relatif cukup solid, bahkan tertopang kuat oleh momentum Ramadan dan Lebaran.
Neraca perdagangan juga masih mencatatkan surplus, sementara sektor komoditas dari batu bara hingga minyak kelapa sawit juga masih memberi bantalan terhadap tekanan global.
Namun, menginjak akhir kuartal I-2026 tekanan eksternal terjadi. Eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran secepat kilat telah membawa kenaikan harga minyak di atas asumsi makro yang jadi dasar perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Harga minyak Brent sempat menembus USD118 per barel pada beberapa pekan awal perang. Kini, perang telah berlangsung selama tujuh pekan, dan belum ada tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.
Walaupun harga minyak mentah naik namun, pemerintah berkomitmen tidak menyesuaikan harga bahan bakar bersubsidi. Transmisi ini yang dijaga pemerintah agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Sebab, jika tidak, inflasi akan semakin tak terbendung.
Sebelumnya, pemerintah pada bertemu dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor's (S&P) di AS, menekankan komitmen Indonesia dalam menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit APBN 2026 yang sebelumnya diperkirakan akan melebar ke kisaran 2,9 persen karena kenaikan harga minyak, bahkan diperkirakan bisa turun sedikit ke kisaran 2,8 persen terhadap PDB. Meskipun angka itu masih lebih tinggi dari rancangan awal 2,68 persen. Namun, pemerintah konsisten untuk menjaga defisit di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.180-Rp17.220 per dolar AS, sedangkan range untuk sepekan ke depan berada di level Rp17.150-Rp17.300.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.