JAKARTA - Sejumlah pelaku industri lintas sektor membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang saat ini dampak nyatanya terhadap kinerja bisnis masih belum optimal. Padahal, penerapan teknologi tersebut berpotensi meningkatkan efektivitas kerja di berbagai sektor, mulai dari transportasi, media, hingga layanan publik.
Saat ini, tingkat adopsi AI di Indonesia tercatat sudah sangat tinggi, yakni 96 persen. Namun, adopsi yang benar-benar menghasilkan dampak bisnis nyata masih tergolong rendah, yaitu sekitar 12 persen.
Kesenjangan tersebut dinilai perlu diatasi melalui penerapan AI yang lebih terukur agar teknologi ini dapat meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat layanan, dan memperbaiki pengalaman pengguna di lapangan.
Regional Lead untuk Indonesia dan Malaysia, Leon Chen, menilai bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya pada adopsi teknologi, tetapi pada efektivitas implementasinya di lapangan.
“AI memiliki potensi besar untuk mendorong efisiensi dan inovasi, namun tantangan terbesar adalah memastikan penerapannya benar-benar memberikan dampak nyata bagi operasional dan pengalaman pengguna,” ujar Leon, Senin (20/4/2026).
Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk mempercepat pemanfaatan AI yang lebih tepat guna, terutama dalam mendukung peningkatan kualitas layanan dan efisiensi proses bisnis di berbagai industri.
Dalam forum tersebut juga dipaparkan sejumlah contoh implementasi AI di sektor transportasi dan pengelolaan data, termasuk pemanfaatan sistem otomatisasi layanan pelanggan yang membantu mempercepat respons dan meningkatkan efisiensi penanganan pertanyaan pengguna.