Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Begini Saran Dirut BRI Hadapi Gejolak Saham BBRI

Anggie Ariesta , Jurnalis-Kamis, 30 April 2026 |11:54 WIB
Begini Saran Dirut BRI Hadapi Gejolak Saham BBRI
Dirut BRI (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Di tengah koreksi harga saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang mencapai kisaran 16 persen secara year-to-date, Direktur Utama BRI Hery Gunardi meminta para investor agar tetap tenang dan fokus pada tujuan investasi jangka panjang.

Menurutnya, fluktuasi harian di pasar modal adalah hal yang lumrah dan tidak seharusnya memicu kepanikan bagi pemegang saham blue chip.

Hery menekankan bahwa bagi investor dengan orientasi jangka panjang (5 hingga 20 tahun), fundamental perusahaan jauh lebih penting daripada pergerakan harga sesaat yang sering kali dipengaruhi oleh sentimen makro global.

"Anda nggak usah terlalu lihat, karena kita seperti saya juga adalah investor yang jangka menengah dan jangka panjang. Kita nggak usah lihat harga saham naik turun, naik turun itu bikin namanya tekanan darah naik juga gitu kan, stresnya naik," ujar Hery dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/4/2026).

Adapun Hery memberikan tips agar investor lebih mencermati dividend yield atau imbal hasil dividen yang diberikan perseroan.

Dengan performa laba yang solid, BRI mampu memberikan tingkat pengembalian yang jauh di atas instrumen investasi konvensional lainnya.

"Walaupun harga saham tadi dikatakan bahwa ada mengalami tekanan di bawah sekitar 15-16 persen, nggak usah dilihat itu, dividend ratio-nya. Dan dividen kita kan cukup bagus ya, jadi paling tidak bisa memberikan antara 10-11 persen return per tahun. Mau cari investasi di mana sebesar itu? Deposito aja mungkin hanya 7 persen. Reksa dana pasar uang mungkin sekitar 5,5-6 persen," paparnya.

Hery juga meyakini bahwa saat kondisi makroekonomi membaik, baik secara global maupun lokal, harga saham perusahaan berfundamental kuat akan otomatis kembali terkerek naik mengikuti indeks.

 

Senada dengan Hery, Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi sebelumnya menjelaskan bahwa pelemahan harga saham BBRI saat ini merupakan refleksi dari dinamika pasar modal secara luas dan persepsi investor global, bukan penurunan kinerja internal.

Royadi menegaskan bahwa dari sisi laporan keuangan kuartal I 2026, BRI berada dalam posisi yang sangat kuat dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 13,7 persen.

"Jadi kalau kita melihat ya, kalau melihat dari fundamental yang bagus, kami mencermati bahwa ini lebih ke faktor S&L (supply and demand) dibandingkan dengan faktor fundamental sendiri. Dari sisi fundamental kita juga selain kita yang bagus, kita juga kemarin baru di RUPS mengumumkan bahwa kita membagi dividen yang rasionya juga cukup tinggi ya, 92 persen dari laba tahun 2025," jelas Royadi.

Royadi menambahkan bahwa strategi transformasi perusahaan yang berfokus pada digitalisasi dan penguatan dana murah (CASA) akan terus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham dalam jangka menengah. Perseroan tetap optimis bahwa nilai perusahaan pada akhirnya akan tercermin dari fundamentalnya yang kokoh.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement