JAKARTA - Apa perbedaan SPBU, Pertashop dan Pertamini? Ini penjelasannya. Masyarakat tentu tidak asing lagi dengan SPBU, Pertashop dan Pertamini yang sama-sama menjual Bahan Bakar Minyak (BBM).
Saat ini jumlah SPBU yang dioperasikan Pertamina Patra Niaga hingga mencapai 7.000 unit tersebar di seluruh Indonesia. Sementara, jumlah Pertashop mencapai sekira 6.000 unit. Pertashop (Pertamina Shop) tersebar di berbagai pelosok pedesaan, terutama di wilayah yang belum terjangkau oleh SPBU konvensional, dengan fokus pengembangan pada pemerataan akses energi berkualitas bagi masyarakat.
Sementara, jumlah Pertamini tidak diketahui. Sebab, Pertamini tidak mempunyai izin dari pemerintah. Bahkan tidak ada pengawasan baik kualitas bahan bakar sampai takaran pasti bahan bakar yang dijual.
Pertamini menjadi istilah baru bagi penjual bahan bakar eceran di pinggir jalan. Pertamini muncul ketika adanya penjualan dispenser penakar bahan bakar yang dibuat oleh masyarakat skala rumahan. Pertamini menjual BBM jenis Pertalite dan Pertamax yang dibeli dari SPBU. Harganya pun biasanya lebih mahal dibandingkan BBM yang dijual di SPBU Pertamina.
Lalu apa saja perbedaan SPBU, Pertashop dan Pertamini? Ini penjelasannya seperti dirangkum Okezone, Jakarta.
Hal utama yang paling mencolok adalah perizinan. SPBU dan Pertashop memiliki izin resmi dari Pertamina. Bahkan Pertamina memberikan pilihan franchise bagi masyarakat yang ingin memiliki bisnis SPBU maupun Pertashop.
Sementara, Pertamini tidak mempunyai izin dari Pertamina maupun pemerintah. Pertamini menjual BBM eceran di pinggir jalan hingga gang-gang kecil. Keberadaan Pertamini memang langsung menjangkau masyarakat yang ingin langsung membeli BBM tanpa antre, namun harganya lebih mahal. Sebagai contoh, harga BBM Pertalite di SPBU mencapai Rp10.000 per liter, sementara di Pertamini mencapai Rp12.000 per liter
Perbedaan selanjutnya adalah biaya investasi. Sebagai contoh, SPBU Regular, syarat yang harus dipenuhi minimal memiliki luas lahan berukuran 1.000 m2, minimal dua pulau pompa, wajib menyediakan PLTS atap dan investasi kurang lebih Rp6 miliar di luar tanah.
Untuk Pertashop, Pertamina membagi dua jenis usaha yaitu Pertashop Platinum dan Pertashop Gold. Modal usaha Pertashop berkisar antara Rp250 juta hingga Rp500 juta lebih.
Sementara, menurut sumber untuk biaya buka Pertamina cukup terjangkau dengan modal Rp7 juta hingga Rp20 juta. Tentu biaya ini lebih murah tapi untungnya bisa lebih besar karena menjual harga BBM lebih mahal dibanding SPBU dan Pertashop.
Harga BBM yang di SPBU dan Pertashop sudah ditetapkan oleh Pertamina dan transparan karena bisa diakses di laman resmi Pertamina.
Sementara, harga BBM di Pertamini lebih mahal. Sebagai contoh, harga BBM Pertalite di SPBU mencapai Rp10.000 per liter, sementara di Pertamini mencapai Rp12.000 per liter
SPBU memiliki skala dan kapasitas besar serta fasilitasnya lebih lengkap karena tidak hanya jual BBM tapi dilengkapi layanan lainnya seperti bengkel, minimarket, restoran hingga masjid. Lokasi SPBU strategis, di kota besar, jalan tol.
Pertashop bentuk layanan SPBU mini yang disediakan Pertamina untuk melayani area yang belum terjangkau di SPBU besar. Kapasitas lebih kecil namun tetap resmi dan memenuhi standar Pertamina. Lokasinya di area terpencil atau desa yang belum ada SPBU.
Sedangkan, Pertamini lebih kecil karena dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Pasokan BBM juga tergantung pembelian di SPBU. Lokasinya pun umumnya berada di lingkungan pemukiman, pinggir jalan bahkan di dalam gang yang langsung dekat dengan masyarakat.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.