Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pjs Dirut BEI Optimistis MSCI Tak Akan Turunkan Kasta Saham RI Jadi Frontier Market

Iqbal Dwi Purnama , Jurnalis-Jum'at, 08 Mei 2026 |18:50 WIB
Pjs Dirut BEI Optimistis MSCI Tak Akan Turunkan Kasta Saham RI Jadi Frontier Market
Pjs Dirut BEI Optimistis MSCI Tak Akan Turunkan Kasta Saham RI Jadi Frontier Market (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik optimistis penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market. Meski ada kekhawatiran mengenai potensi penurunan status dari emerging market menjadi frontier market.

Menurutnya, agenda transformasi integritas pasar modal yang saat ini dijalankan mendapatkan respons yang positif dari penyedia indeks global. Misalnya, FTSE Russell yang telah resmi mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dalam hasil review terbarunya.

"Responsnya kita lihat cukup baik (agenda transformasi pasar modal). Paling tidak Footsie sudah mengkonfirmasi Indonesia tetap ada di emerging market. Dan kita tunggu, tentunya MSCI juga akan menyampaikan hal yang sama," ujar Jeffrey dalam sambutannya pada acara perayaan HUT ke-18 ICSA di Bursa Efek Indonesia, Jumat (8/5/2026).

Jeffrey mengakui pasar modal tengah menghadapi tantangan yang unik. Berbeda dengan tantangan yang dihadapi pada tahun 2008 ketika krisis keuangan global, ataupun kondisi pelemahan ekonomi global yang terjadi saat pandemi covid-19.

Dia mengatakan tantangan yang dihadapi saat ini adalah soal kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Hal tersebut menciptakan arus dana keluar yang menarik kebawah pergerakan indeks. 

"Belakangan pasar modal kita mengadapai tantangan, kalau kita mundur ada covid 19, kemudian tahun 2008 ada krisis global, dan seterusnya. Tantangan saat ini cukup unik, karena trust dipertanyakan," tambah Jeffrey. 

 

Oleh sebab itu, Jeffrey mengatakan pihaknya bersama Self-Regulatory Organization (SRO) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir Maret lalu sudah menyampaikan seluruh proposal terkait agenda transformasi integritas pasar modal, untuk menjawab isu transparansi dan tata kelola yang sebelumnya dipertanyakan investor. 

Adapun proposal yang disampaikan kepada MSCI antara lain adalah keterbukaan pemegang saham di atas 1 persen, dari sebelumnya 5 persen. "Akhir Maret kemarin kita sudah mendeliver seluruh proposal untuk menjawab concern transparansi dan tata kelola dari pasar modal kita," kata Jeffrey. 

Selain itu, lanjut dia, BEI juga telah meningkatkan kualitas keterbukaan data investor dengan menyampaikan informasi pemegang saham secara lebih granular. Jika sebelumnya klasifikasi investor hanya terdiri dari 9 tipe, kini telah diperluas menjadi 39 tipe dan subtipe investor.

BEI juga telah mengeluarkan daftar saham yang pemegangnya terkonsentrasi atau High Shareholding Concentration (HSC). Tak hanya itu, BEI juga mulai memberlakukan Peraturan Nomor I-A yang baru. Dalam aturan tersebut, ketentuan free float minimum dinaikkan menjadi 15 persen.

Namun Jeffrey menegaskan, substansi aturan baru tersebut tidak hanya mengatur mengenai free float, melainkan juga memperkuat aspek governance atau tata kelola perusahaan tercatat.

"Dalam peraturan itu tidak hanya mengatur soal free float, tetapi juga mengatur bagaimana governance dari perusahaan tercatat," pungkasnya.
 

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement