Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bantu Jaga Rupiah Usai Melemah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Purbaya: Perlu Waktu

Anggie Ariesta , Jurnalis-Kamis, 14 Mei 2026 |11:51 WIB
Bantu Jaga Rupiah Usai Melemah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Purbaya: Perlu Waktu
Bantu Jaga Rupiah Usai Melemah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Purbaya: Perlu Waktu (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa siap membantu menjaga nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS yang kini menembus Rp17.500 per USD. Namun, kata Purbaya proses penguatan nilai tukar Rupiah melalui intervensi pemerintah membutuhkan waktu. 

Purbaya menegaskan bahwa dukungan Kementerian Keuangan tidak dilakukan melalui intervensi langsung di pasar valuta asing, melainkan melalui penguatan pasar Surat Berharga Negara (SBN) atau bond market. Purbaya menilai bahwa stabilitas di pasar obligasi merupakan kunci agar tekanan terhadap mata uang Garuda tidak semakin dalam.

"Itu kan perlu waktu. Kita kan enggak masuk ke pasar dolar langsung. Tapi kita hanya menjaga stabilitas bond market," ujar Purbaya di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Langkah stabilisasi ini dilakukan secara perlahan guna memastikan imbal hasil obligasi tetap menarik bagi investor.  “Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti," katanya. 

Purbaya mengklaim bahwa saat ini kondisi pasar obligasi sudah mulai menunjukkan tren positif seiring dengan kembalinya minat investor asing ke pasar domestik. “Asing juga masuk sih. Ini kayaknya bond-nya sudah mulai stabil lagi. Dan kita lihat ke depan seperti apa. Tapi yang jelas kita monitor kondisi di pasar bond sekarang," imbuh Purbaya.

Pemerintah juga mempertimbangkan opsi pembelian kembali (buyback) SBN di pasar sekunder. Purbaya telah memberikan instruksi kepada Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) untuk menyiapkan teknis pelaksanaan yang kemungkinan akan berjalan selama beberapa bulan ke depan.

 

Di sisi lain, Purbaya memastikan bahwa merosotnya nilai tukar Rupiah ke level Rp17.500 per dolar AS belum mengganggu postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya terkait subsidi energi. Hal ini dikarenakan pemerintah telah melakukan simulasi risiko dengan parameter harga minyak yang cukup tinggi.

"Terus rupiah itu dampaknya apa? Waktu kita hitung kemarin 120 per barel, ya rupiahnya dekat-dekat situ, jadi enggak ada masalah. Saya enggak harus hitung ulang," pungkasnya.

Selain masalah fiskal, Purbaya juga mengungkapkan hasil koordinasinya dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk memperkuat penerimaan negara dari sektor migas dan pertambangan guna menopang ketahanan ekonomi nasional.

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement