Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Tertekan ke Rp17.719, BI Dinilai Perlu Naikkan Suku Bunga ke 5%

Feby Novalius , Jurnalis-Selasa, 19 Mei 2026 |21:33 WIB
Rupiah Tertekan ke Rp17.719, BI Dinilai Perlu Naikkan Suku Bunga ke 5%
Bank Indonesia (BI) tidak memiliki ruang untuk terus menunda pengetatan suku bunga di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. (Foto ;Okezone.com)
A
A
A

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) tidak memiliki ruang untuk terus menunda pengetatan suku bunga di tengah pelemahan nilai tukar rupiah ke level Rp17.719 per dolar AS. BI dinilai perlu menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin, dari 4,75 persen menjadi 5,00 persen.

Suku bunga acuan telah bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025, tetapi tekanan terhadap rupiah belum mereda. Dalam kondisi seperti ini, intervensi valas semata tidak lagi memadai, dan setiap penundaan hanya akan memperbesar biaya stabilisasi yang pada akhirnya harus ditanggung perekonomian nasional.

Peneliti Ekonomi Great Institute, Ani Asriyah, menegaskan keputusan menaikkan BI-Rate kini merupakan langkah korektif yang diperlukan untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan menahan depresiasi rupiah agar tidak menjalar lebih luas ke inflasi impor, pasar obligasi, dan persepsi risiko investor.

“Bank Indonesia perlu menunjukkan sinyal yang tegas bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas. Dalam situasi seperti sekarang, kenaikan BI-Rate 25 basis poin merupakan langkah korektif yang prudent untuk menahan depresiasi rupiah agar tidak berkembang menjadi dislokasi yang lebih mahal bagi perekonomian,” ujar Ani, Selasa (19/5/2026).

Tekanan terhadap rupiah tidak dapat dilepaskan dari dinamika global, khususnya kebijakan moneter Federal Reserve yang masih mempertahankan pendekatan higher for longer. Kondisi ini menyebabkan diferensial suku bunga antara negara maju dan berkembang menjadi faktor krusial dalam menentukan arah aliran modal global. Fenomena ini mencerminkan dilema impossible trinity, di mana otoritas moneter harus menyeimbangkan stabilitas nilai tukar, independensi kebijakan moneter, dan keterbukaan arus modal. Indonesia sebagai bagian dari emerging markets menghadapi tekanan lebih besar karena sensitivitas terhadap perubahan sentimen global dan volatilitas arus modal.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement