"Nah yang keempat ini adalah financial technology, fintech, dan juga digitalisasi. Nah, digital ini memang sudah mengubah perilaku nasabah-nasabah yang ada di Indonesia terutama, dan juga yang ada di luar negeri misalnya," lanjutnya.
Digitalisasi di sektor perbankan berjalan sangat cepat. Momen pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu turut mempercepat proses tersebut. "Itu nasabah kan tidak bisa datang ke cabang. Jadi yang tadinya gaptek (gagap teknologi), tidak bisa menggunakan mobile banking, terpaksa menggunakan mobile banking karena tidak bisa datang ke ATM, tidak bisa datang ke cabang, tidak bisa transaksi di teller, dan seterusnya," ujar Hery.
"Nah apa yang dilakukan bank, menurut Brett King, bank is a technology company with a banking license. Sebenarnya bank itu technology company," ujar Hery.
Jadi artinya, lanjut dia, dengan kondisi seperti ini, perbankan tidak akan bisa melawan perkembangan zaman.
"Ini adalah satu keharusan bahwa kita harus mentransformasi diri, mengubah diri. Bukan hanya digitalisasi, bukan hanya otomasi, tetapi juga terkait dengan sekarang ada AI dan Gen AI. Jadi kalau itu tidak diubah, kita tidak lagi mengikuti tren ini, bank itu akan ditinggalkan oleh nasabahnya," kata Hery.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.