Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tak Hanya Energi, Reasuransi Jadi Andalan Tugu Insurance (TUGU)

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Jum'at, 05 Juni 2026 |20:51 WIB
Tak Hanya Energi, Reasuransi Jadi Andalan Tugu Insurance (TUGU)
Reasuransi Jadi Andalan Tugu Insurance (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) dinilai menjadi salah satu emiten asuransi yang dinilai masih belum mendapatkan apresiasi yang sepadan dari pasar. TUGU merupakan salah satu pemain utama di industri asuransi umum Indonesia dengan posisi yang unik.

Perseroan didirikan untuk mendukung kebutuhan manajemen risiko Pertamina dan hingga kini masih menjadi bagian penting dari ekosistem bisnis grup energi nasional tersebut, dengan PT Pertamina (Persero) sebagai pemegang saham pengendali sebesar 58,5%.

Selama lebih dari empat dekade, TUGU berkembang bersama Pertamina dalam mengelola berbagai risiko strategis, mulai dari energi, maritim, hingga aset properti. Hubungan yang telah terbangun dalam jangka panjang tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mendalam terhadap karakteristik risiko sektor energi, tetapi juga mendorong pengembangan kapasitas underwriting dan reasuransi yang menjadi salah satu kekuatan utama TUGU saat ini.

Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai hubungan jangka panjang tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi model bisnis TUGU. 

"Hubungan captive ini telah bertahan melewati lima pergantian pemerintahan di Indonesia, dua siklus besar harga minyak, krisis keuangan 1998, hingga restrukturisasi Pertamina pada 2020 yang menunjukkan ketahanan kemitraan bisnis yang telah teruji dalam berbagai siklus ekonomi dan perubahan kebijakan.” ungkapnya dalam risetnya, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Lebih lanjut, KISI menilai keberadaan Pertamina dalam ekosistem bisnis TUGU tidak semata-mata menciptakan basis pendapatan yang stabil, tetapi juga memungkinkan perusahaan membangun keahlian teknis yang sulit direplikasi oleh banyak pemain lain di industri asuransi umum Indonesia.

 

Meski memiliki fondasi bisnis yang kuat, valuasi saham TUGU dinilai masih belum mencerminkan nilai intrinsiknya. Pada saat riset diterbitkan, saham TUGU diperdagangkan pada valuasi hanya 0,44 kali nilai buku, jauh di bawah estimasi nilai wajarnya.

Dalam risetnya, KISI juga mengungkap salah satu faktor yang sempat menimbulkan kekhawatiran investor adalah lonjakan rasio klaim setelah implementasi PSAK 117. 

Fenomena tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh dampak transisi standar akuntansi baru dibandingkan memburuknya kualitas underwriting perusahaan.

Hal tersebut tercermin dari hasil jasa asuransi atau insurance service result yang justru meningkat 39% menjadi lebih dari Rp1 triliun sepanjang 2025. Dengan kata lain, profitabilitas inti bisnis asuransi tetap menunjukkan tren yang positif.

Selain itu, TUGU juga diperkirakan memperoleh manfaat dari portofolio investasinya yang mencapai lebih dari Rp11 triliun. Lingkungan suku bunga yang relatif tinggi dinilai dapat memberikan tambahan kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan investasi perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.

Dari sisi imbal hasil bagi pemegang saham, TUGU juga menawarkan daya tarik tersendiri. Perseroan membagikan dividen Rp100 per saham dari laba tahun buku 2025, yang setara dengan dividend yield sekitar 8,6%. KISI bahkan memperkirakan dividen dapat meningkat menjadi Rp137 per saham pada 2026.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement