Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Anjlok di Luar Ekspektasi, Bos BI Ungkap 5 Langkah Lanjutan

Anggie Ariesta , Jurnalis-Selasa, 09 Juni 2026 |15:50 WIB
Rupiah Anjlok di Luar Ekspektasi, Bos BI Ungkap 5 Langkah Lanjutan
Gubernur BI (Foto: Okezone)
A
A
A

"Nomor dua, selain BI-Rate juga instrumen SRBI juga kita sesuaikan naik, supaya inflow, daya tarik masuk. Karena salah satu penyebab pelemahan rupiah adalah terjadi outflow dalam investasi portfolio. Dengan kenaikan BI-Rate dan SRBI, itu inflownya diharapkan akan naik lagi dan mendorong penguatan rupiah. Itu nomor dua ya," lanjutnya.

Langkah ketiga yang dirilis BI adalah memberikan stimulus berupa pemotongan harga swap lindung nilai (hedging) sebesar 10 persen bagi para investor asing yang memarkirkan dananya di SBN, saham, maupun SRBI. Diskon biaya penukaran valas ke rupiah ini sengaja dipatok 10 persen untuk mengompensasi beban kewajiban fiskal (pajak) rata-rata investor asing di Indonesia sehingga instrumen domestik menjadi jauh lebih kompetitif di kancah global.

"Nomor tiga, memberikan insentif untuk swap lindung nilai. Jadi investor asing yang masuk membeli SBN saham SRBI, mereka bisa menggunakan ini sebagai underlying, mereka bisa ke bank. Selama ini ada, disebut swap lindung nilai untuk hedging. Mereka membawa masuk ke bank dan bank nanti bisa pass on atau pass through ke BI,” ujar Perry.

Perry melanjutkan, dengan pemberian insentif untuk swap lindung nilai besarannya ditetapkan 10 persen, sehingga harga swapnya untuk yang swap lindung nilai lebih murah 10 persen dari harga swap yang reguler.

“Kan kita ada harga swap yang reguler. Swap itu adalah pertukaran dari valas ke rupiah untuk mengcover lindung nilai. Itu adalah nomor tiga ya. Nomor tiga adalah pemberian insentif untuk swap lindung nilai sebesar 10%. Sekaligus itu memperkuat daya tarik. Daya tariknya tidak hanya suku bunga naik, tapi juga harga untuk melakukan lindung nilai hedging itu juga lebih murah. Sekaligus itu juga mengurangi sebagai kompensasi beberapa kewajiban atau biaya investor lain kalau untuk melakukan lindung nilai," kata Perry.

Langkah keempat difokuskan untuk mengamankan kecukupan likuiditas perbankan dalam negeri dengan membuka kembali jendela lelang mingguan repurchase agreement (Repo). Melalui mekanisme serupa gadai efek ini, bank-bank dapat menjaminkan aset SBN atau SRBI mereka ke Bank Indonesia dengan pilihan masa tenor yang diperpanjang hingga 12 bulan, sehingga menghemat biaya BI dibandingkan opsi intervensi pembelian SBN di pasar sekunder.

“Jadi untuk kebutuhan 3 bulan, 9 bulan, 6 bulan, 9 bulan, 12 bulan, bank-bank itu bisa dengan menggunakan sekuritas berharga, apakah SBN, SRBI, ya itu kita disebut transaksi repurchase agreement. Sehingga dengan demikian makanya selama ini kami kan ekspansi likuiditas moneter. Selama ini antara lain melalui pembelian SBN dari pasar sekunder. Nah oleh karena itu tentu saja dengan menggunakan Repo ini kebutuhan untuk membeli SBN-nya itu bisa lebih murah ya," jelasnya.

Langkah kelima adalah mendongkrak intensitas operasi moneter secara berkala di pasar valas maupun rupiah. BI menerapkan strategi pelaksanaan lelang instrumen SRBI sebanyak dua kali dalam satu minggu, di samping memperketat intervensi pasar melalui transaksi spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

“Yang kelima adalah meningkatkan intensitas operasi valas maupun moneter yang tadi saya sampaikan, baik melalui intervensi valas maupun yang rupiah adalah dengan lelang SRBI 2 kali dalam seminggu. Jadi itu 5 langkah untuk langkah-langkah lanjutan untuk memperkuat nilai tukar rupiah,” tegas Perry.

Dengan demikian, Perry tegas mematahkan spekulasi dan isu miring yang menyebut pasokan amunisi devisa negara telah menipis untuk melakukan intervensi pasar. Berdasarkan indikator internasional dari IMF, posisi cadangan devisa Indonesia per Juni 2026 ini dipastikan masih berada di atas batas aman 115 persen, serta setara dengan pembiayaan enam bulan impor, sehingga publik diminta untuk tidak panik.

"Lebih dari cukup. Gini, caranya gini. BI itu selalu mengukur berapa jumlah cadangan devisa yang cukup. Ada indikator yang dikeluarkan IMF, yang disebut adequacy reserve asset. Dan kami ukur itu. Itu adalah mudahnya ya, berapa cadangan devisa untuk bisa meng-cover pelembahan rupiah yang dalam. Kami ukur-ukur itu dan sekarang masih lebih dari 115 persen. Jadi masih lebih dari cukup itu,” ungkap Perry.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement