Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Chatib Basri: Situasi Ekonomi RI Tak Seburuk yang Dibayangkan

Rohman Wibowo , Jurnalis-Selasa, 09 Juni 2026 |16:28 WIB
Chatib Basri: Situasi Ekonomi RI Tak Seburuk yang Dibayangkan
Chatib Bisri (Foto: Okezone)
A
A
A

Berdasarkan data tersebut, pelemahan rupiah rupanya sangat sensitif terhadap indikator CDS atau instrumen asuransi terhadap risiko gagal bayar utang, yang mencerminkan tingkat kepercayaan investor. 

Menariknya, memburuknya angka CDS Indonesia sudah mulai terlihat sejak Januari 2026, jauh sebelum ketegangan perang meningkat. 

Hal ini dipicu oleh keputusan Moody’s mengubah outlook ekonomi Indonesia menyusul kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran yang diprediksi mendekati angka tiga persen.

Chatib menekankan bahwa Indonesia tidak sedang berada di ambang resesi karena pertumbuhan ekonomi masih diproyeksikan stabil pada kisaran 4,5 hingga 5 persen. 

Namun, Chatib menitikberatkan kegelisahan pasar lebih didorong oleh isu keberlanjutan fiskal yang membuat investor cenderung menahan diri atau mengalihkan modalnya ke pasar yang lebih aman.

"Persoalannya bukan pada resesi karena pertumbuhan kita masih sangat baik menurut standar global, tapi lebih pada kredibilitas fiskal yang menimbulkan anxiety bagi para investor di pasar modal," jelasnya.

Menghadapi situasi ini, Chatib menggarisbawahi Bank Indonesia berada dalam posisi sulit namun telah mengambil beberapa langkah strategis. 

Otoritas moneter memiliki pilihan untuk melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing atau meningkatkan daya tarik aset domestik agar modal tidak terus keluar.

Selain menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, BI juga memperketat aturan makro dan mikroprudensial dengan menurunkan batas FX exposure dari 50.000 dolar AS menjadi 25.000 dolar AS guna meredam spekulasi.

Chatib menyoroti BI yang terus berupaya menjaga keseimbangan antara menjaga cadangan devisa dan memastikan rupiah tidak terdepresiasi terlalu dalam. 

Langkah intervensi pasar yang masif dipandang cukup berisiko karena dapat menguras cadangan devisa secara signifikan dalam waktu singkat jika tidak dibarengi dengan perbaikan kepercayaan pasar.

"Opsi dari Bank Indonesia adalah menaikkan interest rate untuk membuat aset kita menarik atau melakukan intervensi pasar, namun intervensi yang terlalu banyak akan membuat cadangan devisa turun terus," tutur Chatib.

Terkait dampak ke masyarakat, Chatib memperkirakan pelemahan kurs ini belum akan memicu lonjakan inflasi yang ekstrem. Berdasarkan kalkulasi BI, setiap satu rupiah depresiasi memberikan tambahan inflasi sebesar 0,13. 

Dengan asumsi depresiasi rupiah berada di level delapan persen, maka dampaknya terhadap kenaikan harga-harga di tingkat konsumen diperkirakan masih berada di bawah angka satu persen.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement