Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Indonesia Perkuat Standar Keamanan dan Kepatuhan Industri Kripto

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Kamis, 11 Juni 2026 |15:14 WIB
Indonesia Perkuat Standar Keamanan dan Kepatuhan Industri Kripto
Indonesia Perkuat Standar Keamanan dan Kepatuhan Industri Kripto (Foto: Freepik)
A
A
A

JAKARTA - Industri kripto Indonesia berkomitmen untuk memperkuat sistem kepatuhan, manajemen risiko, dan perlindungan pengguna di tengah pertumbuhan industri yang semakin pesat dan terhubung dengan ekosistem global. Ini dilakukan seiring dengan meningkatnya standar kepatuhan dan pengawasan di industri aset kripto global.

Salah satunya dilakukan Indodax yang menjalin kerja sama strategis dengan platform data blockchain Chainalysis. CEO Indodax William Sutanto mengatakan, kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk terus meningkatkan standar kepatuhan dan tata kelola industri aset kripto di Indonesia.

"Kolaborasi kami dengan Chainalysis menjadi langkah strategis untuk memastikan Indodax tetap berada di garis depan dalam menerapkan standar keamanan dan kepatuhan di tengah industri kripto yang semakin kompleks," kata William dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

William menambahkan penguatan infrastruktur kepatuhan kini menjadi salah satu fondasi utama dalam membangun industri aset kripto yang lebih sehat, terpercaya, dan berkelanjutan.

"Kepercayaan pengguna merupakan fondasi utama dalam industri ini. Kami percaya pertumbuhan industri kripto yang sehat dan berkelanjutan harus dibangun di atas transparansi, tata kelola yang baik, serta manajemen risiko yang kuat dalam jangka panjang," lanjut William.

Melalui implementasi solusi Chainalysis Crypto Compliance, Indodax memperkuat kemampuan pemantauan aktivitas on-chain secara real-time untuk membantu mengidentifikasi, menganalisis, dan memitigasi potensi risiko dengan lebih cepat dan akurat.

Solusi ini juga mendukung penguatan sistem kepatuhan, pengawasan transaksi, serta peningkatan skala operasional dengan tetap mengedepankan perlindungan pengguna dan manajemen risiko yang kuat.

Chainalysis merupakan platform data blockchain yang menyediakan solusi investigasi, kepatuhan, dan market intelligence berbasis AI yang digunakan oleh instansi pemerintah, bursa aset digital, institusi keuangan global, hingga perusahaan keamanan siber di lebih dari 70 negara.

Data dan teknologi yang dikembangkan Chainalysis telah membantu berbagai institusi dunia dalam menangani kasus kejahatan siber berskala besar sekaligus mendukung pertumbuhan ekosistem aset digital yang lebih aman dan transparan.

 

Menurut Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025, Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia dalam adopsi aset kripto. Indonesia juga tercatat sebagai pasar aset kripto terbesar keempat di Asia berdasarkan nilai transaksi yang diterima, dengan pertumbuhan mencapai 103 persen secara tahunan. 

Regional Director ASEAN Chainalysis Diederik Van Wersch menilai pertumbuhan industri yang pesat perlu diimbangi dengan sistem kepatuhan dan pengawasan risiko yang semakin kuat.

"Indonesia merupakan salah satu pasar kripto dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara. Pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan penguatan sistem kepatuhan dan pemantauan risiko yang semakin mumpuni," katanya.

Dia menambahkan, dukungan teknologi AI dan analisis data blockchain memungkinkan potensi risiko teridentifikasi secara real-time sehingga dapat ditangani dengan lebih cepat dan akurat," ungkap dia.

"Kami melihat Indodax menunjukkan komitmen yang kuat dalam membangun fondasi tersebut dan bangga dapat mendukungnya melalui teknologi serta keahlian yang kami miliki untuk membantu menciptakan ekosistem yang lebih aman dan transparan," tambahnya.
 

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement