Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Terancam Kembali ke Rp18.000 per USD, Ini Biang Keroknya

Anggie Ariesta , Jurnalis-Minggu, 21 Juni 2026 |16:03 WIB
Rupiah Terancam Kembali ke Rp18.000 per USD, Ini Biang Keroknya
Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali menghadapi jalan terjal dan berpotensi tertekan selama perdagangan pekan depan. (Foto: Okezone.com/Freepik)
A
A
A

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa indeks dolar AS (DXY) berpotensi besar merangkak naik dan menekan balik Mata Uang Garuda ke zona psikologis yang lebih rendah.

"Saya akan ke teknikal dulu ya, di mana USD kemungkinan besar akan berada di kisaran 99,200, kemudian resistennya itu adalah 101,700. Sepertinya indeks dolar ini akan kembali menguat," tulis Ibrahim dalam risetnya, Minggu (21/6/2026).

"Kemudian untuk rupiah sendiri, saya sudah membuat rilis kemarin di hari Jumat dan internal itu ya salah satu fundamentalnya itu resistennya dalam minggu depan di 17.600 sampai 18.000 (per dolar AS), karena melihat USD-nya ke 101,700," imbuhnya.

Ibrahim menguraikan terdapat empat pilar utama yang menjadi motor penggerak keperkasaan indeks dolar AS saat ini, yakni dinamika geopolitik, arah kebijakan politik internal AS, kebijakan ketat bank sentral AS (The Fed), serta faktor permintaan dan penawaran global.

"Masalah geopolitik, kedua masalah kebijakan politik di Amerika, kemudian yang ketiga itu masalah kebijakan bank sentral Amerika di bawah Kevin Walsh, yang keempat adalah supply dan demand," ungkap Ibrahim.

Dari klaster geopolitik global, perhatian pasar tertuju pada eskalasi di Timur Tengah dan Eropa Timur. Meski AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata elektronik selama 60 hari untuk membuka Selat Hormuz, pelanggaran tembak-menembak antara Israel dan Lebanon membuat situasi kembali tegang. Iran bahkan mengancam akan menutup kembali jalur komersial vital tersebut.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement