Seluruh produk yang dihasilkan akan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan sektor industri, pelanggan ritel, serta pembangkit listrik di wilayah Jawa, Bali, hingga Sulawesi. Infrastruktur penyimpanan dan distribusi juga telah dirancang untuk mendukung rantai pasok LNG berbasis transportasi darat.
Bahlil mengatakan keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu menjaga pasokan energi bagi industri, terutama di tengah tantangan pasokan gas di sejumlah wilayah.
Ia mencontohkan pasokan gas murah untuk industri atau Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) di Jawa Barat, Banten, Bekasi, dan Jakarta mulai mengalami penurunan akibat berkurangnya lifting gas. Kondisi itu membuat sebagian kebutuhan industri dipenuhi menggunakan LNG yang memiliki harga lebih tinggi.
“Ini sangat membantu industri dalam rangka memberikan kepastian terhadap bahan baku. Sekarang di Jawa Timur masih oke, tetapi di Jawa Barat, Banten, Bekasi, dan Jakarta terjadi koreksi karena HGBT menurun. Terpaksa kita memakai LNG sehingga harganya memang agak naik,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga meminta PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java menjaga kepastian pasokan gas hingga masa kontrak berakhir pada 2035 agar investasi yang telah ditanamkan dapat berjalan optimal.