JAKARTA – Mila Arlinda, seorang perempuan muda berusia 28 tahun, berhasil membangun usaha peternakan modern bernama Kerabat Ternak 1–3 yang kini dikenal luas di berbagai daerah di Jawa Timur. Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) tahun 2020 ini mulai mengembangkan bisnisnya dari Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.
Di tengah anggapan bahwa dunia peternakan identik dengan pekerjaan laki-laki dan sulit menghadirkan kesejahteraan, Mila justru membuktikan sebaliknya. Bersama suaminya, Sahroni, ia mengembangkan usaha kambing dan domba yang kini memiliki berbagai lini bisnis, mulai dari penggemukan, pembibitan, ternak perah, hingga penjualan sarana produksi peternakan (sapronak).
Dari usaha yang awalnya sederhana, kini perputaran omzet Kerabat Ternak mencapai ratusan juta rupiah.
“Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan,” kenang Mila saat ditemui di kandang Kerabat Ternak, Tuban, Senin (29/6/2026).
Namun, keraguan itu justru menjadi pemantik semangatnya. Lahir pada 1 Januari 1999 dari keluarga sederhana, ayahnya seorang pengusaha kayu, sementara ibunya ibu rumah tangga, Mila tumbuh dengan karakter pekerja keras dan terbiasa hidup mandiri.
Ketertarikannya pada dunia peternakan sudah muncul sejak remaja. Bahkan sebelum menjadi mahasiswa, tepatnya saat masih duduk di bangku SMA kelas II pada 2014, Mila mulai memelihara lima ekor domba.
Dari kandang kecil itulah perjalanan panjangnya dimulai.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Fapet UGM pada 2020, Mila memutuskan fokus menekuni usaha ternak. Ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan.
Baginya, pendidikan peternakan bukan sekadar teori.
“Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha,” ujarnya.
Selama kuliah, Mila dikenal aktif belajar langsung dari dosen, praktisi, hingga peternak senior di berbagai daerah. Ia percaya keberhasilan peternakan lahir dari perpaduan ilmu pengetahuan dan pengalaman lapangan.
“Teori itu penting, tapi tidak cukup. Harus turun langsung ke lapangan,” katanya.
Perjalanan bisnisnya tidak selalu berjalan mulus. Kematian ternak yang ia pelihara menjadi bahan pembelajaran. Setiap kali terjadi kematian, Mila melakukan observasi agar kejadian serupa tidak terulang.
Dari pengalaman tersebut, ia semakin memahami manajemen kesehatan ternak, mulai dari pneumonia akibat perubahan suhu hingga berbagai infeksi lain yang umum menyerang kambing dan domba.
Kini, Kerabat Ternak 1–3 berkembang menjadi usaha peternakan yang tidak hanya fokus pada jumlah populasi, tetapi juga kualitas ternak dan kesejahteraan hewan.
Selain kebersihan, pakan juga dikelola secara serius. Mila memiliki lahan hijauan pakan ternak seluas sekitar 1,5 hektare dan memanfaatkan pakan tambahan seperti ampas tahu serta kangkung kering untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.
Berbeda dengan sebagian peternak yang mengejar populasi besar, Mila justru lebih fokus pada kualitas dan genetika ternak.
Strategi tersebut terbukti berhasil. Untuk kambing kualitas unggul, harga jual dapat mencapai Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, sedangkan kambing lokal berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta.
Tidak hanya menjual ternak kurban dan aqiqah, Kerabat Ternak juga mengembangkan bisnis sapronak seperti susu cempe, vitamin, hingga peralatan peternakan yang dipasarkan ke berbagai daerah.
Momentum Iduladha menjadi salah satu puncak usaha mereka. Dalam dua bulan menjelang musim kurban 2024, omzet Kerabat Ternak disebut mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta. Sementara pada hari biasa, usaha aqiqah, penjualan bibit, susu, dan sapronak menghasilkan perputaran sekitar Rp50 juta per bulan, ditambah bisnis sarana produksi ternak sekitar Rp75 juta.
Pasar ternaknya kini meluas hingga Lamongan, Bojonegoro, dan berbagai wilayah lain di Jawa Timur.
Tidak berhenti di usaha ternak, sejak 2023 Mila juga aktif mengedukasi masyarakat tentang dunia peternakan melalui media sosial dan TikTok. Konten edukatif yang ia buat menjadi sarana berbagi ilmu sekaligus memperkuat branding bahwa dunia peternakan modern membutuhkan ilmu pengetahuan dan keterampilan lapangan.
Di sisi lain, keberadaan Kerabat Ternak juga mulai memberi dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Saat ini Mila dan suaminya memiliki dua orang karyawan dan aktif membangun kelompok ternak bersama masyarakat.
Salah satunya dirasakan Erma, anggota kelompok ternak binaan Mila. Menurutnya, keberadaan Kerabat Ternak sangat membantu peternak kecil, terutama dalam distribusi susu kambing.
“Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu, saya juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak,” ujarnya.
Manfaat serupa juga dirasakan Agung Setiawan, siswa PKL dari SMK Negeri 4 Bojonegoro. Ia mengaku senang dapat belajar langsung di peternakan tersebut.
“Banyak ilmu yang saya peroleh selama PKL di sini,” katanya.
Bagi Mila, kesuksesan bukan hanya soal keuntungan pribadi, melainkan bagaimana peternakan dapat menjadi ruang belajar, pemberdayaan, dan sumber penghidupan masyarakat.
Dari lima ekor domba yang dipelihara semasa SMA, kini Mila Arlinda tumbuh menjadi salah satu peternak muda inspiratif yang membawa semangat peternakan modern berbasis ilmu pengetahuan, praktik lapangan, dan pemberdayaan masyarakat.
Keberanian menembus stigma, ketekunan menghadapi kegagalan, serta konsistensinya membangun usaha membuat Mila layak menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya perempuan.
Di balik kandang-kandang ternaknya, tersimpan cerita tentang keberanian bermimpi, ketangguhan menghadapi kegagalan, dan keyakinan bahwa peternakan bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan pengabdian yang mampu menghadirkan kesejahteraan.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.