Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sinkronisasi Kebijakan Batu Bara dan DMO Penting Jaga Stabilitas Listrik

Feby Novalius , Jurnalis-Kamis, 02 Juli 2026 |15:47 WIB
Sinkronisasi Kebijakan Batu Bara dan DMO Penting Jaga Stabilitas Listrik
Gangguan pasokan batu bara tidak dapat dilihat sebagai persoalan tunggal, melainkan bagian dari tantangan sistemik dalam rantai pasok energi nasional. (Foto: Okezone.com/PTBA)
A
A
A

Selain itu, Tenggara juga mencatat adanya penyesuaian target produksi pada sejumlah RKAB yang telah disetujui. Hal ini berdampak pada ketersediaan pasokan di pasar domestik, terutama pada periode permintaan yang tinggi.

Dalam risetnya, Tenggara juga menyoroti struktur pasar batu bara Indonesia yang masih didominasi produksi ekspor. Di satu sisi, Indonesia merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di dunia dengan target produksi sekitar 600 juta ton per tahun. Di sisi lain, kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik domestik berada pada kisaran 180–190 juta ton per tahun.

Menurut Tenggara, tantangan utama bukan pada ketersediaan produksi nasional, melainkan pada kepastian pasokan yang sesuai dengan kebutuhan industri ketenagalistrikan, baik dari sisi waktu maupun spesifikasi.

Tenggara juga mencatat bahwa harga batu bara untuk kebutuhan domestik melalui skema DMO masih berada di level US$70 per ton sejak 2018, sementara harga pasar global sempat berada di kisaran US$140 per ton. Kondisi ini dinilai memengaruhi dinamika alokasi pasokan antara pasar domestik dan ekspor.

Selain itu, Tenggara menyoroti keterbatasan pasokan batu bara kalori menengah yang banyak digunakan pembangkit listrik. Kondisi tersebut membuat sebagian pembangkit melakukan penyesuaian teknis melalui pencampuran batu bara dengan spesifikasi berbeda.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement