Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bahlil Ancam Tinjau RKAB Pengusaha Tambang jika Tak Pakai B50

Iqbal Dwi Purnama , Jurnalis-Kamis, 09 Juli 2026 |16:15 WIB
Bahlil Ancam Tinjau RKAB Pengusaha Tambang jika Tak Pakai B50
Bahlil Ancam Tinjau RKAB Pengusaha Tambang jika Tak Pakai B50 (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong para pengusaha terutama di sektor pertambangan untuk menggunakan BBM B50 untuk kegiatan operasional.

Bahlil bahkan mengancam untuk memangkas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) para pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP). Ancaman ini diharapkan agar para pengusaha mau menggunakan produk lokal, ketimbang melakukan impor bahan bakar, hanya sekedar mencari harga yang lebih murah.

"Awalnya pengusaha ini, pemakai solar, ini tidak mau pakai (B50), katanya harga mahal, sekarang kita sudah bicara kepada pengusaha, terutama di sektor pertambangan, ada Boy Thohir, Astra, pak Arsjad, dan banyak lagi," kata Bahlil dalam acara peluncuran B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).

Bahlil menilai, penggunaan B50 akan memberikan lebih banyak nilai tambah terhadap perekonomian lokal. Sebab lebih banyak menyerap tenaga kerja lokal, khususnya para petani sawit, penghematan devisa negara, hingga penurunan emisi gas buang yang dihasilkan oleh mesin kendaraan.

"Saya sudah bilang kalau kalian tidak pakai B50, RKAB saya tinjau, jadi supaya tidak ada alasan-alasan, ini pakai produk dalam negeri, jangan asing-asing terus, jadi mereka sudah komit," tambahnya

Bahlil menjelaskan, B50 sebetulnya punya spesifikasi yang lebih baik ketimbang pendahulunya B40. Pertama mesin kendaraan bisa lebih efisien dan lebih tahan lama untuk melakukan perawatan karena kandungan kadar air B50 lebih sedikit ketimbang B40.

"Kalau B40 itu filter kendaraan diganti sekitar 10-20 ribu Km, nah B50 itu ada yang 40 ribu Km belum diganti filternya," kata Bahlil.

 

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement