Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

S&P Pertahankan Rating Kredit Indonesia, Investor Masih Soroti Konsistensi Kebijakan

Feby Novalius , Jurnalis-Kamis, 16 Juli 2026 |11:05 WIB
S&P Pertahankan Rating Kredit Indonesia, Investor Masih Soroti Konsistensi Kebijakan
S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil. (Foto: Okezone.com/Freepik)
A
A
A

JAKARTA - S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil. Keputusan ini menegaskan Indonesia tetap berada dalam kategori layak investasi (investment grade) di tengah tekanan fiskal, pelemahan nilai tukar, tingginya biaya pembiayaan, dan ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda.

S&P menilai tekanan terhadap posisi fiskal dan eksternal Indonesia pada 2026 bersifat sementara. Perbaikan diperkirakan terjadi seiring pemulihan penerimaan negara, penguatan harga komoditas, penyesuaian belanja, serta implementasi kebijakan yang lebih stabil dan dapat diprediksi.

Faktor terakhir tersebut merupakan prasyarat paling penting karena akan menjadi determinan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan. S&P juga menempatkan komitmen menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai jangkar kredibilitas fiskal Indonesia.

Dari sisi pertumbuhan, S&P mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada triwulan I-2026. Lembaga itu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1 persen untuk keseluruhan 2026 serta rata-rata 4,9 persen per tahun sepanjang 2026–2029. Prospek pertumbuhan tersebut menjadi salah satu penopang utama peringkat Indonesia, bersama rasio utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan dengan median negara lain dalam kategori peringkat kredit BBB.

Menurut Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Trisha Devita Indraswari, afirmasi peringkat ini menjadi sinyal positif yang menjaga kepercayaan investor terhadap kemampuan pemerintah memenuhi kewajiban keuangannya.

"Keputusan S&P menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai memiliki daya tahan yang memadai. Dalam perspektif ekonomi, peringkat kredit berfungsi sebagai sinyal mengenai tingkat risiko suatu negara. Status investment grade membantu mengurangi persepsi risiko, menjaga basis investor, dan mencegah kenaikan biaya pembiayaan pemerintah maupun korporasi," ujar Trisha, Kamis (16/7/2026).

Dalam jangka pendek, afirmasi peringkat berpotensi memperbaiki sentimen pasar keuangan. Status layak investasi dapat membantu menahan arus keluar modal, menopang nilai tukar rupiah, dan menjaga daya tarik Surat Berharga Negara (SBN) bagi investor institusional global. Dengan dipertahankannya status Indonesia, sovereign risk premium Indonesia, yakni tambahan imbal hasil yang dituntut investor atas risiko suatu negara, berpeluang tetap terkendali sehingga biaya penerbitan utang pemerintah tidak melonjak.

Meski begitu, Trisha mengingatkan bahwa transmisi positif ini tidak akan berjalan secara otomatis. Pasar memang menyambut baik keputusan S&P, tetapi perbaikan sentimen tidak serta-merta membalikkan arah pergerakan pasar. Dinamikanya tetap dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga global, harga minyak, konflik geopolitik, kebutuhan pembiayaan pemerintah, dan konsistensi kebijakan domestik.

"Rating yang dipertahankan dapat menjadi peredam tekanan pasar, tetapi bukan berarti seluruh risiko telah hilang. Investor tetap akan menilai realisasi penerimaan negara, arah defisit, stabilitas rupiah, dan kualitas belanja pemerintah pada semester kedua 2026," jelas Trisha.

Selain itu, faktor pemicu penurunan peringkat yang dipasang S&P juga perlu diperhatikan secara saksama. S&P menyebut peringkat Indonesia dapat diturunkan apabila beban bunga pemerintah bertahan di atas 15 persen dari total penerimaan negara atau apabila utang bersih pemerintah meningkat lebih dari 3 persen terhadap PDB setiap tahunnya.

Aspek penting berikutnya terletak pada ketahanan sektor eksternal. Keberlanjutan outlook stabil Indonesia akan bergantung pada seberapa cepat pemulihan kinerja ekspor dan perbaikan neraca eksternal dapat dilakukan di tengah tekanan pada neraca transaksi berjalan dan kebutuhan pembiayaan eksternal bruto.

Di sisi domestik, pengelolaan fiskal perlu ditopang oleh penguatan kapasitas penerimaan negara. Beban bunga yang terus meningkat akan menggerus ruang APBN untuk pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, dan infrastruktur. GREAT Institute menilai tambahan pembiayaan fiskal perlu diarahkan pada program yang memiliki dampak pengganda ekonomi tinggi, yang mampu mendorong crowding-in effect berupa masuknya investasi swasta melalui penyediaan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan perbaikan iklim usaha. Sebaliknya, pembiayaan yang tidak produktif berisiko meningkatkan beban fiskal tanpa memperbesar kapasitas ekonomi.

Lebih lanjut, S&P menilai Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan struktural, seperti pendapatan per kapita yang relatif rendah, basis ekspor dan penerimaan negara yang terbatas, serta pendalaman sektor keuangan yang belum optimal. Dalam jangka panjang, keberlanjutan status investment grade akan ditentukan oleh kemampuan Indonesia membenahi struktur ekonominya. Reformasi perpajakan, peningkatan produktivitas, pendalaman sektor keuangan, perbaikan iklim investasi, dan kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk memperkuat kemampuan negara membiayai pembangunan sekaligus memenuhi kewajiban utangnya.

"Rating Indonesia ke depan tidak cukup hanya ditopang oleh rasio utang yang relatif terkendali. Pemerintah juga perlu meningkatkan rasio penerimaan, menjaga kualitas institusi, meningkatkan kredibilitas kebijakan ekonomi, serta memastikan perubahan regulasi tidak meningkatkan ketidakpastian bagi dunia usaha. Langkah ini penting agar berbagai catatan lembaga pemeringkat mengenai kelemahan struktural tersebut tidak terus berulang pada evaluasi tahunan mendatang," kata Trisha.

Trisha juga mengingatkan bahwa keputusan S&P harus dipandang secara proporsional. Sepanjang 2026, Moody's dan Fitch mengeluarkan keputusan yang berlawanan arah. Moody's menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif pada 5 Februari 2026 sambil mempertahankan peringkat di level Baa2. 

Sementara itu, Fitch pada 4 Maret 2026 tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB. Kedua lembaga tersebut memiliki alasan yang sama dalam menurunkan outlook Indonesia, yakni terkait prediktabilitas dan konsistensi kebijakan.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement