Selain hubungan investasi yang semakin erat, kemitraan ekonomi Indonesia dan Tiongkok juga ditopang oleh hubungan perdagangan yang terus tumbuh. Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, dengan komoditas utama ekspor berupa produk mineral, besi dan baja, nikel, minyak nabati, serta bijih logam. Pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD 167,36 miliar berdasarkan data General Administration of Customs of China (GACC).
Sementara itu, pada periode Januari–Juni 2026, neraca perdagangan menunjukkan surplus bagi Indonesia sebesar USD 5,6 miliar.
Investasi Tiongkok di Indonesia masih didominasi sektor industri dasar, seperti industri logam dan ketenagalistrikan. Melalui penandatanganan WAICO ini, pemerintah menargetkan adanya lompatan aliran modal yang signifikan ke sektor industri berteknologi tinggi yang mampu memperkuat transformasi ekonomi nasional, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan nilai tambah yang lebih besar.
Sebagai tindak lanjut dari upaya tersebut, Menko Airlangga dijadwalkan menggelar serangkaian pertemuan bisnis dan promosi investasi secara langsung dengan jajaran pimpinan sejumlah perusahaan teknologi terkemuka asal Tiongkok, antara lain ByteDance, Unitree, Deep Robotics, dan FiberHome.
“Pertemuan ini diharapkan menghasilkan peluang kerja sama konkret yang dapat mempercepat pengembangan ekosistem industri teknologi tinggi, memperluas transfer pengetahuan dan teknologi, serta memperkuat daya saing industri nasional,” tegas Airlangga
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.