JAKARTA - Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) Global Ratings mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia pada level BBB dengan prospek atau outlook stabil.
Keputusan tersebut mendapat respons positif dari pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Mereka menilai keputusan S&P mencerminkan kepercayaan internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap terjaga.
1. RI Tetap Berstatus Investment Grade
S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan keputusan tersebut menunjukkan pengakuan terhadap konsistensi pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi, kredibilitas kebijakan fiskal, serta ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
"Keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia pada level investment grade dengan outlook stabil menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional terjaga kredibel," ujar Purbaya.
2. Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksi Tetap Sekitar 5 Persen
S&P menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat dengan dukungan kebijakan makroekonomi yang prudent, stabilitas politik dan kelembagaan, serta tingkat utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan negara dengan peringkat setara.
Lembaga tersebut memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Pertumbuhan ekonomi 2026 diperkirakan mencapai 5,1 persen.
Sementara itu, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,6 persen secara tahunan (year on year/yoy), didorong oleh kuatnya konsumsi domestik dan aktivitas investasi.
3. Disiplin Fiskal Jadi Penopang Peringkat Kredit
S&P memberikan perhatian terhadap komitmen pemerintah menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menurut pemerintah, kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat kredibilitas fiskal Indonesia.
Purbaya mengatakan pemerintah akan terus menjaga kualitas APBN melalui penguatan penerimaan negara, peningkatan efektivitas belanja, serta pengelolaan pembiayaan yang prudent dan berkelanjutan.
4. Penerimaan Negara Mulai Menguat
S&P mencatat adanya perbaikan kinerja penerimaan negara yang didukung oleh penguatan administrasi perpajakan, peningkatan kepatuhan wajib pajak, serta optimalisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Pendapatan negara pada semester I-2026 tumbuh sekitar 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan penerimaan tersebut dinilai dapat memperkuat ruang fiskal pemerintah ke depan.
5. BI dan OJK Nilai Fundamental Ekonomi Tetap Solid
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyambut positif keputusan S&P tersebut.
Menurutnya, afirmasi peringkat kredit dengan outlook stabil mencerminkan kepercayaan internasional terhadap stabilitas makroekonomi dan prospek pertumbuhan Indonesia.
"Hal ini didukung oleh sinergi bauran kebijakan yang erat antara Pemerintah dan Bank Indonesia dalam memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global," ujar Perry.
Sementara itu, OJK menilai keputusan S&P menunjukkan fundamental ekonomi dan stabilitas sistem keuangan Indonesia tetap terjaga.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan penilaian tersebut menjadi dorongan untuk terus memperkuat sektor jasa keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
6. Ada Peluang Peringkat Indonesia Naik
S&P menyebut peringkat kredit Indonesia berpotensi meningkat apabila terjadi penguatan struktural pada indikator fiskal dan eksternal.
Peningkatan peringkat dapat didukung oleh penurunan defisit anggaran, peningkatan penerimaan negara secara berkelanjutan, penurunan biaya pembiayaan, serta stabilitas nilai tukar.
Pemerintah menegaskan akan terus menjaga konsistensi kebijakan ekonomi melalui penguatan hilirisasi, peningkatan produktivitas, dan perbaikan tata kelola ekonomi nasional.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.