Secara sektoral, sejumlah lapangan usaha tetap mencatatkan pertumbuhan yang solid, terutama industri pengolahan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan yang ditopang oleh implementasi berbagai program pemerintah.
Ke depan, Perry mengatakan Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui bauran kebijakan yang diarahkan untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong sumber-sumber pertumbuhan baru.
Meski demikian, Perry mengingatkan bahwa tantangan global kembali meningkat setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026 yang mengganggu lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak dan berbagai komoditas dunia serta meningkatkan tekanan inflasi global.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 hanya mencapai sekitar 3,0 persen, sementara inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,5 persen. Situasi itu juga mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Funds Rate) lebih cepat pada triwulan IV 2026, disertai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Di tengah tekanan tersebut, BI menilai penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Selain mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, BI juga memperluas berbagai kebijakan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing, memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing, serta memperbesar insentif likuiditas bagi perbankan guna mendukung penyaluran kredit ke sektor riil.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.