Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gubernur BI Ungkap Alasan Tahan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen di Tengah Pelemahan Rupiah

Iqbal Dwi Purnama , Jurnalis-Rabu, 22 Juli 2026 |16:23 WIB
Gubernur BI Ungkap Alasan Tahan Suku Bunga Acuan 5,75 Persen di Tengah Pelemahan Rupiah
Gubernur BI (Foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan alasan dibalik kebijakan menahan suku bunga acuan ditengah tren pelemahan rupiah yang belakangan yang sempat menyentuh level all time high Rp18 ribu pada pekan lalu.

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah tidak bisa direspon hanya dengan mengerek suku bunga acuan. Sebab bisa mengganggu kinerja ekonomi di dalam negeri karena bunga kredit bisa mengalami peningkatan ketika suku bunga acuan dinaikan. Kondisi ini dikhawatirkan mengganggu iklim usaha di dalam negeri ketika para pengusaha masih menahan ekspansi, dan berdampak pada penciptaan lapangan kerja.

"Pada hari ini memang BI ada 2 pilihan, apakah menaikkan BI Rate dengan konsekuensi suku bunga dalam negeri juga akan naik, atau yang kami lakukan hari ini tidak menaikkan BI rate," ujarnya dalam konferensi pers hasil RDG BI, Rabu (22/7/2026).

Meski suku bunga acuan ditahan, Bank Indonesia meningkatkan dan memberikan insentif bagi aliran modal asing guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah tanpa membebani sektor riil dengan kenaikan bunga kredit.

Untuk memperkuat nilai tukar Rupiah, BI mengumumkan perluasan insentif bagi investor asing. Salah satunya dengan menaikkan insentif pengurangan premi untuk transaksi Swap Jual Lindung Nilai dari sebelumnya 10 persen menjadi 12,5 persen.

Selain itu, BI juga memperluas insentif bagi transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Jual Lindung Nilai sebesar 15 persen. Kombinasi dua kebijakan insentif ini diharapkan mampu menjaga tren aliran masuk modal asing ke dalam negeri.

"Dengan insentif ini lebih efektif menarik investasi asing mengendalikan nilai tukar, dan tentu saja tanpa memberikan dampak kenaikan suku bunga dalam negeri, lebih efektif dari kenaikan BI rate," tambah Perry.

 

Perry Warjiyo menyatakan penguatan bauran kebijakan moneter dilakukan agar instrumen keuangan domestik tetap menarik di mata investor global, terutama di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat.

BI mencatat pada triwulan II 2026 investasi portofolio asing membukukan net inflows sebesar 8,5 miliar dolar AS. Arus dana tersebut terutama mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Memasuki triwulan III 2026, arus modal asing masih berlanjut. Hingga 20 Juli 2026, investasi asing di pasar SBN tercatat kembali mengalami net inflows sebesar 0,1 miliar dolar AS.

Bank sentral juga menaikkan imbal hasil SRBI untuk menarik lebih banyak investasi portofolio asing. Kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil. Kepemilikan investor non residen pada SRBI meningkat dari Rp238,09 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp288,65 triliun pada 20 Juli 2026, atau setara 27,11 persen dari total outstanding SRBI.

Tak hanya itu, BI juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan menyediakan transaksi spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah. Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi dengan negara-negara mitra.

Perry menegaskan BI akan terus memperluas berbagai insentif untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.

"Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung komitmen Bank Indonesia melalui berbagai penguatan stabilitas nilai tukar rupiah, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," kata Perry.

(Taufik Fajar)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement